Akurat Logo

Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Pemerintah Didesak Segera Tutup Semua Perlintasan Sebidang

Putri Dinda Permata Sari | 28 April 2026, 10:53 WIB
Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Pemerintah Didesak Segera Tutup Semua Perlintasan Sebidang
Taksi Green SM tertemper KRL di Bekasi Timur.

AKURAT.CO Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, menyampaikan duka cita mendalam atas kecelakaan kereta api yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur. 

Insiden yang menelan korban jiwa dan puluhan penumpang luka-luka tersebut menjadi perhatian serius bagi seluruh pihak. Dia pun meminta seluruh petugas di lapangan memprioritaskan penanganan korban secara maksimal selama proses evakuasi masih berlangsung.

"Kepada petugas di lapangan untuk memastikan dan memprioritaskan penanganan korban agar mendapatkan penanganan dengan baik dan maksimal," kata Lasarus kepada wartawan, Selasa (28/4/2026).

Baca Juga: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Bekasi Timur, Pengamat Soroti Dugaan Pelanggaran Sinyal

Selain menyampaikan belasungkawa, Komisi V DPR juga mendesak pemerintah segera menuntaskan persoalan darurat perlintasan sebidang, yang dinilai menjadi salah satu faktor rawan kecelakaan kereta api di Indonesia.

Pihaknya telah berulang kali mengingatkan pemerintah melalui PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Kementerian Perhubungan agar menyelesaikan persoalan tersebut. Namun hingga kini, ribuan perlintasan sebidang masih belum tertangani secara optimal.

"Kita minta kepada pemerintah untuk segera menyelesaikan darurat perlintasan sebidang di Indonesia. Komisi V DPR sudah bertahun-tahun meminta kepada KAI untuk menyelesaikan jalur perlintasan sebidang, tapi hingga saat ini darurat perlintasan sebidang tersebut tidak tertangani dengan baik. Coba kita cek data sampai saat ini ada ribuan perlintasan sebidang di Indonesia yang tidak tertangani," tegasnya.

Lasarus mengingatkan, jika persoalan ini tidak segera ditangani, maka potensi kecelakaan kereta api akan terus berulang. Menurutnya, jalur kereta api seharusnya steril dari hambatan, sebagaimana standar di banyak negara.

"Makanya di seluruh dunia ini jalur kereta api itu clear and clean, kecuali di Indonesia. Oleh sebab itu jika darurat perlintasan sebidang tidak tertangani dengan baik, maka ada ribuan kemungkinan kecelakaan akan kembali terjadi," ujar Lasarus.

Berdasarkan data PT KAI, jumlah perlintasan sebidang pada 2024 mencapai 3.896 titik, terdiri dari 2.803 perlintasan terdaftar dan 1.093 tidak terdaftar. Dari jumlah tersebut, 1.832 perlintasan telah dijaga, sementara 971 lainnya belum dijaga.

Baca Juga: Prabowo Jenguk Korban Tabrakan Kereta di RSUD Bekasi, Pastikan Beri Penanganan Terbaik

Memasuki 2025, jumlahnya menurun menjadi 3.703 titik, dengan 2.776 perlintasan terdaftar dan 927 tidak terdaftar. Hingga Desember 2025, tercatat 1.864 perlintasan telah dijaga dan 912 masih belum dijaga.

Kecelakaan ini diduga bermula dari insiden awal di perlintasan kereta, saat sebuah taksi tertabrak KRL. Setelah rangkaian tersebut dievakuasi, insiden lanjutan terjadi ketika KRL relasi Jakarta–Cikarang berhenti di stasiun. 

Pada saat bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek jurusan Surabaya menabrak rangkaian KRL dari arah belakang pada Senin (27/4/2026) malam. Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan masih dalam proses investigasi oleh pihak berwenang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.