Akurat Logo

Empat Dokter Magang Meninggal Beruntun, DPR Desak Evaluasi Program Internship

Redaksi Akurat | 8 Mei 2026, 21:51 WIB
Empat Dokter Magang Meninggal Beruntun, DPR Desak Evaluasi Program Internship
Anggota Komisi IX DPR, Netty Prasetiyani Aher, menyoroti ketidakjelasan status peserta internship dokter sebagai peserta didik dan tenaga layanan kesehatan. Foto: Parlementaria/Arifman, Karisma

AKURAT.CO Anggota Komisi IX DPR, Netty Prasetiyani Aher, menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya sejumlah dokter peserta program internship dalam beberapa waktu terakhir.

Ia menilai rangkaian kejadian ini harus menjadi alarm untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem internship di Indonesia.

"Ini bukan sekadar musibah, tetapi dapat dimaknai sebagai sinyal adanya persoalan sistemik yang harus segera dibenahi. Para dokter muda tidak boleh menjadi korban akibat sistem yang kurang sempurna," kata Netty, pada Selasa (5/5/2026).

Belum lama ini, seorang dokter internship bernama dr. Myta Aprilia Azmi, alumni FK Universitas Sriwijaya, meninggal dunia diduga karena beban kerja saat bertugas di RSUD KH. Daud Arif Kuala Tungkal, Jambi.

Kematian dr. Myta menambah daftar panjang insiden yang menyedot perhatian publik.

Baca Juga: Putri Maradona Menggugat Dokter dalam Persidangan Kelalaian terkait Kematian Ayahnya

Sebelumnya, tiga dokter internship meninggal dalam tiga bulan terakhir, yakni seorang dokter di Cianjur, Jabar, akibat komplikasi campak; seorang dokter di Rembang, Jateng, dugaan anemia; dan seorang dokter di Denpasar, Bali, akibat komplikasi DBD.

Netty menyoroti ketidakjelasan status peserta internship yang berada di antara posisi sebagai peserta didik dan tenaga layanan kesehatan.

"Kondisi ini berdampak pada lemahnya perlindungan hak, termasuk terkait jam kerja, jaminan kesehatan, serta kepastian kesejahteraan," tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya evaluasi terhadap sistem supervisi dan pendampingan di lapangan. Program internship seharusnya menjadi proses pembelajaran, bukan menggantikan peran tenaga medis penuh tanpa pengawasan memadai.

"Banyak laporan yang menunjukkan beban kerja tinggi, bahkan melebihi batas, serta minimnya pendampingan. Ini berisiko tidak hanya bagi dokter muda, tetapi juga bagi keselamatan pasien," jelas Netty.

Baca Juga: Skandal Grup Chat FHUI: Dokter Tirta Ingatkan Bahaya Normalisasi Candaan Cabul

Tak hanya itu, ia menyoroti lemahnya sistem pengawasan dan pelaporan. Masih banyak peserta internship yang enggan melaporkan kondisi kerja tidak ideal karena khawatir berdampak pada penilaian dan kelulusan mereka.

"Kami mendesak pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan, untuk segera melakukan langkah konkret. Antara lain evaluasi nasional terhadap seluruh wahana internship, memperkuat sistem supervisi, serta memastikan adanya mekanisme pengaduan yang aman dan independen," jelas legislator dari Dapil Jabar VIII itu.

Netty juga mendorong pembentukan tim investigasi yang transparan dan akuntabel guna mengungkap penyebab pasti rangkaian kematian tersebut, sekaligus merumuskan perbaikan kebijakan ke depan.

"Keselamatan dokter adalah bagian dari keselamatan pasien. Kita tidak boleh menutup mata. Ini momentum untuk melakukan pembenahan total," pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
W
Editor
Wahyu SK