Akurat Logo

Sinergi Debarkasi di Bandara Jaminan Jemaah Haji Tetap Sehat

Ayu Rachmaningtyas | 3 Juni 2026, 11:20 WIB
Sinergi Debarkasi di Bandara Jaminan Jemaah Haji Tetap Sehat
Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Oktavianus, meninjau proses debarkasi jemaah haji di Bandara Soekarno-Hatta. Foto: Humas Kemenkes

AKURAT.CO Penguatan deteksi dini melalui active case finding di pintu masuk negara menjadi kunci keberhasilan dalam melindungi kesehatan jemaah haji dan masyarakat.

Menyambut kepulangan jemaah haji, Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Oktavianus, meninjau proses debarkasi kloter perdana Provinsi Banten di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (2/6/2026) kemarin.

Ia menyoroti efektivitas skrining kesehatan ketat yang telah dimulai sejak fase keberangkatan di Asrama Haji Pondok Gede.

Menurutnya, kebijakan pembatalan keberangkatan bagi calon jemaah yang tidak memenuhi syarat kesehatan terbukti berdampak signifikan terhadap penurunan angka kesakitan dan kematian.

"Waktu sebelumnya saya ke Asrama Haji Pondok Gede saat pemberangkatan, saya cek ada 14 calon jemaah haji yang dibatalkan pemberangkatannya karena kondisi kesehatannya tidak baik. Buktinya, angka kesakitan dan angka meninggal otomatis turun jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," jelas Benny, dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).

Baca Juga: Ke Mana Barang Jemaah Haji yang Disita? Maskapai Jelaskan Nasibnya

Ia menuturkan, fase debarkasi merupakan tahapan yang sangat penting dalam penyelenggaraan ibadah haji. Pada tahap ini, Kementerian Kesehatan memastikan setiap jemaah mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal serta dilakukan.

Pemantauan kesehatan secara menyeluruh untuk mendeteksi secara dini kemungkinan adanya penyakit menular maupun masalah kesehatan lainnya yang memerlukan tindak lanjut.

Karena itu, pola deteksi dini ini berlanjut di Bandara Soekarno-Hatta saat jemaah kembali.

Benny meninjau langsung pos kesehatan di area debarkasi. Di mana petugas melakukan observasi visual dan menggunakan alat pemindai suhu tubuh (thermo scanner) terhadap para jemaah yang baru tiba.

Jemaah yang terlihat tidak sehat atau diduga mengalami masalah kesehatan langsung dibawa ke pos kesehatan untuk pemeriksaan lebih intensif.

Baca Juga: Begini Tahap dan Proses Kepulangan Jemaah Haji Indonesia 2026

"Begitu kelihatan jemaah yang sudah pulang ini ada suspek tidak sehat, langsung dilakukan cek kesehatan. Dalam kloter ini ada enam orang yang dicek kesehatannya, sekarang masih ada yang diobservasi karena kondisi fisik menurun akibat kelelahan hingga timbul sakit. Nah, ini bisa langsung dikontrol dari sini," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Soekarno-Hatta, Naning Nugrahini, menjelaskan bahwa proses aktif menemukan kasus (active case finding) dilakukan terhadap seluruh jemaah yang tiba di wilayah kerjanya.

Bandara Soekarno-Hatta melayani pemulangan jemaah dari Embarkasi Jakarta, yaitu di Asrama Haji Pondok Gede (DKI Jakarta dan Lampung), Embarkasi Banten, dan Embarkasi Jakarta-Bekasi (wilayah Jawa Barat bagian barat seperti Bekasi dan Bogor).

"Pada saat jemaah haji lewat, petugas kami melakukan observasi visual untuk melihat ada tidaknya tanda dan gejala sakit seperti batuk, pilek, atau panas," ujarnya

"Jika ditemukan gejala tersebut, jemaah akan dibawa ke pos kesehatan untuk registrasi, pemeriksaan tensi, asesmen dokter, hingga pemeriksaan laboratorium," tambah Naning.

Baca Juga: Koper Jemaah Haji Kerap Dibongkar Akibat Over Bagasi, Zamzam dalam Koper Akan Dimusnahkan

Ia menegaskan bahwa kondisi kegawatdaruratan yang paling sering ditemukan pada jemaah yang baru tiba adalah serangan jantung dan sesak napas.

"Ada yang sudah ditangani dengan CPR di atas pesawat, ada yang baru turun langsung mengalami serangan jantung, atau penyakit kronis lainnya. Prinsip kami adalah memberikan pertolongan pertama dan langsung merujuk ke rumah sakit terdekat dari lokasi kegawatdaruratan," ujar Naning.

Melayani kedatangan hampir 1.600 jemaah haji pada Selasa (2/6/2026), BBKK Soekarno-Hatta menyiagakan tenaga kesehatan lengkap yang bekerja dalam sistem 24 jam.

"Ada dokter spesialis kedokteran penerbangan, dokter umum, epidemiolog, entomolog, sanitarian, perawat, sopir ambulans, tenaga humas, hingga tenaga pendukung lainnya," kata Naning.

Benny menambahkan, keberhasilan pengamanan kesehatan jemaah haji ini bukanlah kerja satu pihak, melainkan buah dari kerja sama erat lintas sektor.

Baca Juga: Dam Jemaah Haji Indonesia Capai 150 Ribu, Daging Kurban Diprioritaskan untuk Palestina

"Dukungan datang dari mana-mana. Ada teman-teman dari AirNav yang mengatur lalu lintas udara, kepolisian, Badan Karantina, otoritas bandara, hingga Angkasa Pura yang menyiapkan ruangan dan alat-alat dengan sangat bagus. Ambulans standby untuk kondisi darurat. Ini membuktikan sinergi lintas sektor berdampak pada penurunan kasus yang sangat drastis," terangnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.