Akurat Logo

Film Pesta Babi Tuai Kontroversi, Pengamat Wanti-wanti Bahaya Disintegrasi

Wahyu SK | 5 Juni 2026, 20:06 WIB
Film Pesta Babi Tuai Kontroversi, Pengamat Wanti-wanti Bahaya Disintegrasi
Pengamat politik, Muhammad Busro Asmuni, menilai muatan dan narasi yang terkandung dalam film Pesta Babi berpotensi memunculkan polemik. Foto: Dok. Pribadi

AKURAT.CO Banyak pihak menyampaikan kritik terhadap film dokumenter berjudul Pesta Babi yang belakangan terus menjadi sorotan publik.

Menurut pengamat politik, Muhammad Busro Asmuni, sebuah karya film seharusnya tidak hanya mempertimbangkan aspek kebebasan berekspresi tetapi juga dampak sosial yang dapat ditimbulkan di tengah kemajemukan masyarakat.

Ia menilai muatan dan narasi yang terkandung dalam film Pesta Babi berpotensi memunculkan polemik. Serta memperlebar sekat-sekat sosial yang selama ini menjadi tantangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Busro mengingatkan bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi keberagaman yang membutuhkan kehati-hatian dalam setiap bentuk produksi budaya, termasuk karya film.

"Dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural, setiap karya yang berpotensi menimbulkan sensitivitas sosial perlu dikaji secara cermat. Jangan sampai sebuah produk budaya justru menjadi pemicu munculnya gesekan di tengah masyarakat," ujarnya, kepada wartawan di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Baca Juga: KSAD Pertanyakan Pendanaan Film Pesta Babi: Duitnya Dari Mana?

Menurut Busro, kebebasan berkarya dan berekspresi memang merupakan bagian dari prinsip demokrasi yang harus dihormati. Namun demikian, kebebasan tersebut juga perlu diimbangi dengan tanggung jawab sosial, agar tidak menimbulkan dampak yang kontraproduktif terhadap persatuan nasional.

Ia mengkhawatirkan apabila film yang mengandung unsur-unsur sensitif terus diproduksi tanpa mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat, maka potensi polarisasi dapat semakin menguat.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu kohesi sosial dan memunculkan bibit-bibit disintegrasi bangsa.

"Persatuan nasional adalah modal utama bangsa ini. Karena itu, seluruh elemen, termasuk insan perfilman, memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga harmoni sosial dan tidak menghadirkan narasi yang dapat memecah belah masyarakat," jelasnya.

Busro mengajak seluruh pihak untuk melihat persoalan ini secara bijaksana dan mengedepankan semangat dialog. Kritik terhadap sebuah karya seni tidak boleh dimaknai sebagai upaya membatasi kreativitas, melainkan sebagai bentuk perhatian terhadap dampak yang mungkin muncul di ruang publik.

Baca Juga: Link Gratis Nonton Film Dokumenter Pesta Babi, Simak Syarat dan Ketentuannya

Ia berharap para pelaku industri kreatif dapat menghadirkan karya-karya yang tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga mampu memperkuat semangat kebangsaan, toleransi, dan persatuan.

Di tengah berbagai tantangan sosial dan politik yang dihadapi bangsa saat ini, Busro menilai bahwa seluruh elemen masyarakat perlu berkontribusi dalam menjaga integrasi nasional.

Polemik mengenai film Pesta Babi sendiri hingga kini masih menjadi perbincangan publik. Beragam pandangan muncul dari berbagai kalangan, baik yang mendukung atas dasar kebebasan berekspresi maupun yang mengkritiknya karena dinilai berpotensi menimbulkan sensitivitas di tengah masyarakat.

Bagi Busro, perdebatan tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa kebebasan dan tanggung jawab sosial merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan demokrasi.

Dengan demikian, setiap karya yang lahir di ruang publik dapat menjadi sarana edukasi dan pemersatu, bukan sebaliknya.

Baca Juga: KSAD: Tak Ada Instruksi Langsung dari Petinggi TNI untuk Bubarkan Nobar 'Pesta Babi'

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

W
Reporter
Wahyu SK
W
Editor
Wahyu SK