Jadi Beban APBD dan Banyak 'Titipan', Mendagri Larang Pemda Rekrut Honorer Baru

AKURAT.CO Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, meminta seluruh pemerintah daerah menghentikan perekrutan tenaga honorer baru. Penambahan tenaga non-ASN berpotensi memperberat beban belanja pegawai daerah dan menimbulkan persoalan di masa mendatang.
Dia menegaskan, kebijakan moratorium tenaga honorer yang telah diberlakukan pemerintah harus dipatuhi oleh seluruh kepala daerah.
"Honorer sudah dimoratorium, ini mohon betul untuk seluruh kepala daerah, harus tegas tidak ada tenaga honorer baru," kata Tito, dalam rapat kerja bersama Komisi II DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/6/2026).
Baca Juga: DPR Dorong Pengangkatan Bertahap Guru Honorer dan PPPK Jadi ASN
Menurutnya, praktik perekrutan honorer selama ini kerap menimbulkan masalah, terutama untuk posisi administratif. Dia menilai tidak sedikit tenaga honorer yang direkrut tanpa melalui mekanisme yang tepat dan tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan.
Tito bahkan menyinggung adanya tenaga honorer yang diduga direkrut karena kedekatan dengan pejabat atau tim sukses kepala daerah tertentu, sehingga keberadaannya justru menjadi beban bagi organisasi pemerintahan.
"Kalau untuk tenaga administrasi, sering kali tidak kompeten, tidak memiliki kapabilitas. Mungkin bawaan dari pejabat-pejabat sebelumnya, kepala daerah, tim sukses dimasukkan di sana," ujarnya.
Dia menjelaskan, jumlah tenaga honorer yang terus bertambah pada akhirnya menimbulkan tuntutan agar mereka diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Kondisi tersebut dapat membebani keuangan daerah sekaligus menyulitkan pemerintah dalam pengelolaan aparatur. Karena itu, Tito meminta kepala daerah tidak lagi menambah tenaga honorer agar persoalan serupa tidak terus berulang dan menjadi tanggungan bagi pemerintahan berikutnya.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Skema Penataan Guru Honorer, Akses Jadi ASN Diperluas
"Dengan segala hormat kepada rekan-rekan kepala daerah, tolong jangan ada lagi penambahan honorer karena akan menjadi beban biaya belanja pegawai dan menjadi beban kepala daerah berikutnya. Ini bisa menjadi bom waktu," katanya.
Meski meminta penghentian rekrutmen honorer baru, Tito menegaskan pemerintah tidak menghendaki adanya pemutusan hubungan kerja terhadap tenaga honorer yang saat ini sudah bekerja di instansi pemerintah daerah.
Menurut dia, langkah tersebut penting untuk menghindari keresahan di kalangan pegawai sekaligus menjaga stabilitas pelayanan publik di daerah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








