Akurat Logo

Hadapi Kemarau, Pemerintah Pastikan Produksi Pangan Nasional Tetap Terjaga

Moehamad Dheny Permana | 18 Juni 2026, 07:43 WIB
Hadapi Kemarau, Pemerintah Pastikan Produksi Pangan Nasional Tetap Terjaga
Kementan terus memperbarui informasi cuaca dan iklim menghadapi musim kemarau. Foto: Akurat.co

AKURAT.CO Pemerintah memperkuat langkah antisipasi, adaptasi, dan mitigasi menghadapi musim kemarau 2026.

Hal ini guna memastikan produksi pangan nasional tetap terjaga. 

Berbekal penguatan infrastruktur air, penyediaan benih unggul, modernisasi pertanian, serta dukungan pemerintah daerah, Kementerian Pertanian optimistis target swasembada pangan dapat dipertahankan secara berkelanjutan.

Sekretaris Jenderal Kementan, Suwandi, menegaskan sektor pangan merupakan fondasi penting bagi ketahanan dan kedaulatan bangsa. Karena itu, pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk memastikan produksi pangan tetap berjalan optimal di tengah tantangan iklim.

“Pangan bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi kebutuhan strategis bangsa. Menjaga pangan berarti menjaga kedaulatan dan masa depan negara,” ujar Suwandi, dalam Konferensi Pers Pemerintah bertajuk Update Program Prioritas Pemerintah di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Baca Juga: Waspada Kemarau Panjang 2026! Ini Daftar Wilayah yang Akan Terdampak

Suwandi mengatakan, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, sektor pertanian menjadi bagian penting dalam agenda pembangunan nasional lima tahun ke depan, khususnya untuk mendukung swasembada pangan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pengembangan biofuel, dan hilirisasi pertanian.

Menurutnya, Indonesia memasuki musim kemarau tahun ini dengan kesiapan yang jauh lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. 

Berbagai program penguatan produksi telah dijalankan, mulai dari optimalisasi lahan, cetak sawah, pembangunan dan pengembangan irigasi perpompaan, penyediaan benih unggul, hingga penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.

Ia juga menegaskan kondisi iklim 2026 tidak dapat disamakan dengan fenomena El Nino kuat yang terjadi pada 2015 maupun 2023. Berdasarkan pemantauan data iklim dari BMKG dan satelit NOAA, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung dalam kondisi yang lebih terkendali.

“Karena itu, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, bukan menimbulkan kekhawatiran berlebihan,” katanya.

Baca Juga: Jelang Musim Kemarau, Menko Polkam: Pengendalian Karhutla Jadi Prioritas Nasional

Meski demikian, Kementan tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat periode Juli hingga September merupakan puncak musim kemarau di Indonesia. 

Sejak awal 2026, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, telah menginstruksikan seluruh pemerintah daerah untuk memperkuat langkah antisipasi terhadap potensi kekeringan.

Melalui surat yang dikirim kepada gubernur dan bupati pada 9 Maret 2026, pemerintah daerah diminta memetakan wilayah rawan kekeringan, memperkuat sistem peringatan dini, memperbaiki jaringan irigasi, melakukan normalisasi saluran air, serta mengoptimalkan pemanfaatan embung dan waduk.

“Kita minta daerah melakukan pemetaan wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan sehingga langkah-langkah penyelamatan bisa dilakukan lebih cepat dan lebih tepat,” jelas Suwandi.

Selain itu, Kementan terus memperbarui informasi cuaca dan iklim melalui pemantauan BMKG dan satelit NOAA, agar petani dapat menyesuaikan pola tanam sesuai kondisi lapangan. 

Baca Juga: Sumsel Siaga Karhutla 2026, Herman Deru–Cik Ujang Tegaskan Kesiapan Total Hadapi Musim Kemarau

Pemerintah juga telah menyiapkan berbagai varietas unggul yang lebih adaptif terhadap kondisi kekeringan, seperti Inpari, Inpago, Situbagendit, Situ Patenggang, Pajajaran, dan varietas genjah lainnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.