Menkes: Kekurangan Dokter Jadi Akar Masalah Tingginya Beban Kerja Tenaga Kesehatan

AKURAT.CO Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengakui Indonesia masih menghadapi kekurangan dokter dan dokter spesialis yang berdampak pada tingginya beban kerja tenaga medis di berbagai daerah.
Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan utama yang ingin diselesaikan pemerintah dalam dua hingga tiga tahun ke depan, melalui transformasi sistem kesehatan nasional.
Dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, Budi mengatakan tenaga medis dan tenaga kesehatan merupakan komponen penting dalam transformasi kesehatan. Namun, berbagai persoalan mendasar masih membayangi sektor tersebut.
"Masalah yang pertama kita lihat adalah beban dari dokter itu banyak sekali. Jadi kita sering sekali dengar apa internship itu dipekerjakan mengganti dokter yang ada, PPDS harus kerjanya sampai pagi-pagi subuh-subuh gitu ya. Beban dari dokter-dokter kerjanya sampai malam-malam," kata Budi, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, tingginya beban kerja dokter tidak lepas dari minimnya jumlah tenaga medis yang tersedia, terutama di daerah.
"Kemarin kita kedatangan Bupati Mamberamo Raya, tidak ada satu pun dokter spesialis di sana gitu ya. Dokter giginya nol puskesmasnya. Mungkin ada dari 17, 12 enggak punya dokter. Jadi masalah utamanya adalah karena memang kita kekurangan dokter," ujarnya.
Salah satu indikator kekurangan dokter dapat dilihat dari masih banyaknya dokter yang memiliki Surat Izin Praktik (SIP) di lebih dari satu fasilitas kesehatan. "Kalau SIP tiga itu kan artinya yang ada hanya sepertiga dari yang dibutuhkan. Kalau jumlah dokter cukup, sudah pasti SIP-nya satu. Karena memang dia bekerja di satu tempat," katanya.
Persoalan tidak hanya terkait jumlah dokter, tetapi juga distribusi yang belum merata. Menurutnya, sejumlah kota besar mengalami kelebihan tenaga medis, sementara banyak kabupaten dan daerah terpencil masih kekurangan dokter.
Baca Juga: Mengapa Main HP di Toilet Bisa Memicu Ambeien? Ini Penjelasan Dokter Harvard
"Secara fundamental kekurangan dokter dan dokter spesialis. Kemudian kedua memang kita akui distribusinya juga tidak merata. Sudah ada beberapa kota besar yang kelebihan, tapi sangat banyak kabupaten-kabupaten yang kekurangan," tutur Budi.
Untuk itu, Kementerian Kesehatan telah menyusun perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan hingga tingkat kabupaten dan kota sebagai dasar pengambilan kebijakan.
Menurutnya, peningkatan jumlah dokter menjadi langkah penting untuk menekan beban kerja tenaga kesehatan dan memastikan masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang memadai kapan pun dibutuhkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









