Akurat Logo
Bank Indonesia

Menkes: Kekurangan Dokter Jadi Akar Masalah Tingginya Beban Kerja Tenaga Kesehatan

Putri Dinda Permata Sari | 25 Juni 2026, 17:10 WIB
Menkes: Kekurangan Dokter Jadi Akar Masalah Tingginya Beban Kerja Tenaga Kesehatan
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, usai rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI. (YouTube DPR RI)

AKURAT.CO Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengakui Indonesia masih menghadapi kekurangan dokter dan dokter spesialis yang berdampak pada tingginya beban kerja tenaga medis di berbagai daerah. 

Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan utama yang ingin diselesaikan pemerintah dalam dua hingga tiga tahun ke depan, melalui transformasi sistem kesehatan nasional.

Dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, Budi mengatakan tenaga medis dan tenaga kesehatan merupakan komponen penting dalam transformasi kesehatan. Namun, berbagai persoalan mendasar masih membayangi sektor tersebut.

Baca Juga: Prabowo Jalin Kerja Sama dengan Imperial College London, Bangun 10 Universitas Kedokteran dan Sains di Indonesia

"Masalah yang pertama kita lihat adalah beban dari dokter itu banyak sekali. Jadi kita sering sekali dengar apa internship itu dipekerjakan mengganti dokter yang ada, PPDS harus kerjanya sampai pagi-pagi subuh-subuh gitu ya. Beban dari dokter-dokter kerjanya sampai malam-malam," kata Budi, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Menurutnya, tingginya beban kerja dokter tidak lepas dari minimnya jumlah tenaga medis yang tersedia, terutama di daerah.

"Kemarin kita kedatangan Bupati Mamberamo Raya, tidak ada satu pun dokter spesialis di sana gitu ya. Dokter giginya nol puskesmasnya. Mungkin ada dari 17, 12 enggak punya dokter. Jadi masalah utamanya adalah karena memang kita kekurangan dokter," ujarnya.

Salah satu indikator kekurangan dokter dapat dilihat dari masih banyaknya dokter yang memiliki Surat Izin Praktik (SIP) di lebih dari satu fasilitas kesehatan. "Kalau SIP tiga itu kan artinya yang ada hanya sepertiga dari yang dibutuhkan. Kalau jumlah dokter cukup, sudah pasti SIP-nya satu. Karena memang dia bekerja di satu tempat," katanya.

Persoalan tidak hanya terkait jumlah dokter, tetapi juga distribusi yang belum merata. Menurutnya, sejumlah kota besar mengalami kelebihan tenaga medis, sementara banyak kabupaten dan daerah terpencil masih kekurangan dokter.

Baca Juga: Mengapa Main HP di Toilet Bisa Memicu Ambeien? Ini Penjelasan Dokter Harvard

"Secara fundamental kekurangan dokter dan dokter spesialis. Kemudian kedua memang kita akui distribusinya juga tidak merata. Sudah ada beberapa kota besar yang kelebihan, tapi sangat banyak kabupaten-kabupaten yang kekurangan," tutur Budi.

Untuk itu, Kementerian Kesehatan telah menyusun perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan hingga tingkat kabupaten dan kota sebagai dasar pengambilan kebijakan.

Menurutnya, peningkatan jumlah dokter menjadi langkah penting untuk menekan beban kerja tenaga kesehatan dan memastikan masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang memadai kapan pun dibutuhkan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.