Akurat Logo

Antisipasi Puncak Musim Kemarau Ekstrem, BMKG Ingatkan Langkah Mitigasi untuk Sektor Pertanian

Moehamad Dheny Permana | 3 Juli 2026, 18:38 WIB
Antisipasi Puncak Musim Kemarau Ekstrem, BMKG Ingatkan Langkah Mitigasi untuk Sektor Pertanian
Ilustrasi sawah mengering aibat kemarau ekstrem.

AKURAT.CO Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa sebagian besar wilayah Indonesia tengah bersiap menghadapi puncak musim kemarau ekstrem, yang diperparah oleh fenomena anomali iklim El Nino.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengungkapkan berdasarkan pantauan data iklim terbaru, fenomena El Nino tersebut diprediksi terus berkembang hingga berpotensi mencapai intensitas yang kuat.

Hingga pertengahan Juni 2026, sekitar 37,6 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah resmi memasuki musim kemarau. Selain itu, data terkini mencatat sebanyak 47,16 persen wilayah Indonesia juga telah mengalami curah hujan dengan intensitas di bawah normal.

Baca Juga: Hadapi Kemarau, Pemerintah Pastikan Produksi Pangan Nasional Tetap Terjaga

"Bahkan, pada periode Juli hingga Oktober 2026 nanti, lebih dari 80 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal. Adapun puncak musim kemarau diproyeksikan akan terjadi pada kisaran bulan Juli hingga September," ujar Ardhasena dalam keterangannya, Jumat (3/7/2026).

Dia menjelaskan, penguatan intensitas El Nino ini akan berdampak langsung pada pengurangan volume curah hujan secara signifikan di sebagian besar wilayah nusantara.

Kondisi anomali ini berpotensi menyebabkan musim kemarau tahun ini berlangsung jauh lebih kering dan dengan durasi yang lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Menyikapi ancaman kekeringan tersebut, BMKG mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk segera melakukan langkah-langkah antisipasi dini dan adaptasi mandiri sesuai dengan karakteristik kebutuhan wilayah masing-masing.

Baca Juga: Kenapa Malam Hari Terasa Lebih Dingin Saat Musim Kemarau? Ini Penjelasan BMKG

Secara khusus, perhatian besar diberikan pada stabilitas sektor ketahanan pangan nasional. Ardhasena menekankan pentingnya langkah mitigasi strategis bagi para pelaku di sektor pertanian, guna menghindari risiko gagal panen akibat keterbatasan pasokan air.

"Bagi sektor pertanian, beberapa langkah yang sangat penting untuk segera diterapkan antara lain adalah penyesuaian jadwal tanam, optimalisasi penggunaan varietas tanaman yang tahan terhadap kondisi kering serta berumur genjah, hingga pelaksanaan diversifikasi tanaman pangan," jelasnya.

Guna memastikan seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat mendapatkan data yang akurat, BMKG menegaskan komitmennya untuk terus memantau dinamika perkembangan iklim global maupun regional secara ketat. BMKG juga akan memperbarui seluruh informasi prediksi iklim ini setiap 10 hari sekali.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.