Tantangan Jurnalisme Meningkat di Tengah Minimnya Regulasi: Publik Bergantung pada Medsos dan AI Overview

AKURAT.CO Lanskap industri media massa tengah menghadapi pergeseran konsumsi informasi yang drastis.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) serta dominasi media sosial kini mulai menggerus trafik kunjungan langsung ke situs web media berita resmi.
Hal itu diungkapkan Pendiri sekaligus Komisaris Kumparan, Arifin Asydhad, saat membawakan materi “Jurnalisme Berkualitas dengan Perspektif Multiplatform”, dalam kegiatan Journalism Fellowship on CSR Batch III yang digelar Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan bersama PT Tower Bersama Infrastructure.
Asydhad mengungkapkan bahwa perubahan perilaku pembaca ini memicu penurunan pendapatan media secara signifikan, terutama yang selama ini bergantung pada sistem periklanan digital atau programmatic.
Tren teranyar menunjukkan masyarakat kini lebih memilih mengonsumsi informasi instan lewat platform video pendek dan ringkasan berbasis AI yang disajikan mesin pencari.
Dampak AI Overview Google
Asydhad menjelaskan bahwa ekosistem mesin pencari saat ini sudah jauh berubah dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Kehadiran kecerdasan buatan membuat pembaca tidak perlu lagi mengeklik tautan berita untuk masuk ke laman situs media.
"Itu celakanya lagi, karena begitu kita mencari berita dari Google atau mesin pencari maka yang dihadirkan di situ adalah mesin hasil dari Artificial Intelligence Overview-nya. Kita tinggal baca di situ tanpa pembaca kemudian masuk ke dalam website atau aplikasi kita,” ujar Asydhad dalam sesi yang digelar secara virtual, dikutip Sabtu (4/7/2026).
Kondisi tersebut diperparah dengan temuan riset global mengenai peralihan rujukan utama publik dalam mencari informasi, di mana media sosial kini jauh lebih diminati daripada website media.
"Yak, ini riset ya yang dilakukan oleh Reuters Institute ini baru di tahun 2026. Ya ini memperlihatkan bahwa 30 persen masyarakat di 22 negara itu mengatakan bahwa mereka menjadikan informasi di media sosial dan platform video itu sebagai sumber utama,” ucap Asydhad.
Baca Juga: Sentuhan TBIG untuk Indonesia: Merajut Jaringan Komunikasi, Menghadirkan Sehat hingga Ujung Jayapura
Menurutnya, persentase masyarakat yang mengandalkan media sosial sebagai sumber informasi utama jauh lebih tinggi di Indonesia, yakni mencapai 48 persen.
Karakteristik masyarakat lokal yang memiliki kecenderungan takut tertinggal tren atau Fear of Missing Out (FOMO) menjadi pendorong utama fenomena ini.
"Jadi ada semacam ya FOMO ya gitu-gitulah ya akhirnya mereka mau tidak mau mereka akhirnya lebih banyak mengakses media sosial ya untuk mendapatkan informasi,” tuturnya.
Ia menambahkan, platform seperti TikTok dan Instagram kini mendominasi konsumsi berita harian, sementara platform lain mulai mencatatkan penurunan.
"Ya paling banyak sekarang pasti ya itu lewat TikTok ya kemudian Instagram. YouTube aja kemudian dia mengalami penurunan yang sangat tajam ya dibandingkan dengan pertumbuhan di Instagram maupun di TikTok,” ujarnya.
Minim Regulasi dan Ancaman Hoaks
Tingginya ketergantungan publik pada media sosial sayangnya tidak dibarengi dengan kesadaran kritis dalam menyaring informasi. Asydhad menyoroti bagaimana netizen sering kali mengabaikan validitas sumber berita yang mereka baca di lini masa.
"Di media sosial, masyarakat atau pembaca sebagian besar abai dengan sumber informasi. Sumber informasinya dari mana itu jarang sekali masyarakat itu melihat, apa yang kemudian didapatkan dari sisi substansi informasi itu yang kemudian dia percaya. Celakanya begitu ya walaupun sumber informasinya tidak valid,”imbuhnya.
Situasi ini semakin rumit karena perangkat hukum yang mengatur aktivitas di platform digital dinilai masih belum memadai, sehingga memicu terjadinya gegar budaya atau culture shock.
"Ya tapi inilah yang terjadi saat ini di saat media sosial memang sedang booming di negara kita tapi regulasi ya mengenai media sosial di kita itu sama sekali masih minim gitu. Jadi terjadi semacam culture shock bagi kita sebagai wartawan maupun sebetulnya secara tidak disadari masyarakat juga yang mengkonsumsi informasi. Di situlah banyak makanya di media sosial juga banyak hoaks,” kata Asydhad.
Jaga Etika Jurnalistik
Menyikapi gelombang digitalisasi ini, Asydhad menegaskan bahwa pelaku industri media tidak boleh menutup mata atau melawan perkembangan teknologi.
Langkah yang paling rasional adalah ikut masuk ke dalam ekosistem tersebut tanpa harus mengorbankan prinsip dasar jurnalistik.
Baca Juga: Usai Penantian 13 Tahun, SMK HS Agung Temukan Industri Sesuai Jurusan TKJ di TBIG
"Yang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita mengikuti tapi kita juga mencari bagaimana mengikuti itu tidak dengan membabi buta, tapi mengikuti dengan syarat-syarat yang memang kita harus kita pertimbangkan. Syarat-syarat itu misalnya bagaimana supaya memang kita kalau dalam masuk ke dalam ekosistem media sosial ya namanya prinsip jurnalistik ya etika jurnalistik itu tetap harus dikedepankan,” jelasnya.
Ia mengatakan, langkah adaptasi yang berintegritas mutlak diperlukan agar media massa tetap mampu menyajikan produk jurnalistik yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
"Nah tapi kita bagaimana membuat rambu-rambu supaya memang informasi yang bisa kita sampaikan kepada publik lewat media sosial ya itu menjadi merupakan informasi valid dan bisa dipertanggungjawabkan,” ungkap Asydhad yang merupakan Mantan Pemimpin Redaksi Kumparan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








