BMKG Rilis Jadwal Puncak Kemarau 2026, Waspadai Cuaca Panas hingga September

AKURAT.CO Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis informasi terbaru mengenai jadwal puncak musim kemarau 2026 di Indonesia. Berdasarkan analisis terbaru, Agustus diperkirakan menjadi bulan dengan puncak kemarau terluas, sementara fenomena El Nino yang kini berada pada kategori sangat kuat diprediksi membuat curah hujan berkurang di banyak wilayah.
Informasi ini menjadi perhatian karena kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih kering dibanding kondisi normal. Masyarakat di sejumlah daerah diimbau mulai mengantisipasi dampaknya, mulai dari potensi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga gangguan kesehatan akibat cuaca panas.
Baca Juga: Contoh Susunan Upacara HUT RI 2026 di Sekolah yang Benar, Cocok untuk SD, SMP, dan SMA
BMKG: El Nino Sangat Kuat, Curah Hujan Berkurang hingga Oktober 2026
BMKG mencatat bahwa berdasarkan hasil pemantauan pada pertengahan Juli 2026, intensitas El Nino telah mencapai sekitar 75 persen atau masuk kategori sangat kuat. Kondisi tersebut diperkirakan akan mengurangi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia hingga Oktober 2026.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan untuk menghadapi dampak perubahan iklim tersebut.
Dalam unggahan Instagram resmi @infobmkg yang dikutip pada Rabu (29/7/2026), Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa BMKG terus melakukan komunikasi, koordinasi, dan pendampingan kepada pemerintah daerah, Forkopimda, BPBD, serta berbagai pihak yang membutuhkan informasi iklim secara lebih rinci agar langkah mitigasi dan adaptasi dapat dilakukan sejak dini.
Jadwal Puncak Musim Kemarau 2026 Menurut BMKG
BMKG membagi puncak musim kemarau menjadi tiga periode utama, yakni Juli, Agustus, dan September 2026.
Juli 2026
Sebanyak 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami puncak kemarau pada Juli.
Wilayah yang terdampak antara lain:
Sebagian wilayah Sumatera
Sebagian kecil Kalimantan
Sebagian wilayah Jawa
Nusa Tenggara Timur bagian selatan
Sulawesi Barat bagian utara
Sulawesi Tengah bagian barat
Sebagian Maluku
Papua Barat Daya bagian selatan
Papua Barat bagian tengah
Papua bagian timur
Baca Juga: AS dan Arab Saudi Gempur Milisi Pro-Iran di Irak, Balas Rentetan Serangan Drone ke Fasilitas Minyak
Agustus 2026
Agustus diperkirakan menjadi puncak musim kemarau terbesar karena mencapai 369 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 48,48 persen wilayah Indonesia.
Daerah yang memasuki puncak kemarau pada Agustus meliputi:
Sumatera bagian tengah
Sebagian besar Pulau Jawa
Bali
Nusa Tenggara Barat
Sebagian Nusa Tenggara Timur
Sebagian besar Kalimantan
Sebagian besar Sulawesi
Sebagian Maluku dan Maluku Utara
Sebagian besar Pulau Papua
Besarnya cakupan wilayah tersebut membuat Agustus diprediksi menjadi bulan dengan kondisi paling kering sepanjang musim kemarau 2026.
September 2026
Pada September, sebanyak 169 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 25,41 persen wilayah Indonesia diperkirakan mencapai puncak kemarau.
Wilayah yang terdampak meliputi:
Kepulauan Bangka Belitung
Sebagian besar Sumatera Selatan
Lampung
Sebagian kecil Pulau Jawa
Sebagian besar Nusa Tenggara Timur
Kalimantan bagian selatan
Sebagian besar Sulawesi
Sebagian besar Maluku Utara
Sebagian Maluku
Papua Pegunungan bagian tengah
Dampak Kemarau 2026 yang Perlu Diwaspadai
Musim kemarau yang diperkuat oleh El Nino berpotensi memicu sejumlah dampak di berbagai sektor.
Di sektor pertanian, berkurangnya curah hujan dapat memengaruhi ketersediaan air sehingga jadwal tanam perlu disesuaikan. Sementara itu, cadangan air bersih juga perlu dikelola dengan baik untuk mengantisipasi kekeringan di sejumlah daerah.
Cuaca yang lebih panas dan kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut. Di sisi kesehatan, kualitas udara berpotensi menurun sehingga pemerintah daerah diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Rekomendasi BMKG Menghadapi Musim Kemarau
BMKG turut memberikan sejumlah rekomendasi agar dampak kemarau dapat diminimalkan.
Untuk sektor pertanian, petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering dan membutuhkan lebih sedikit air.
Pada sektor sumber daya air, pemerintah didorong mengoptimalkan seluruh sumber air sebagai cadangan selama musim kemarau berlangsung.
Baca Juga: Siapa yang Memimpin TNI AL?
Di bidang energi, pengelola pembangkit listrik tenaga air diminta memastikan kapasitas air bendungan tetap mencukupi agar operasional pembangkit tidak terganggu.
Sementara itu, pemerintah daerah juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi pencemaran udara dan memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan serta lahan melalui pemantauan dan patroli secara berkala.
Masyarakat Diimbau Tetap Memantau Informasi BMKG
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi lembaga tersebut. Informasi terbaru mengenai prakiraan cuaca, peringatan dini, hingga perkembangan fenomena El Nino dapat menjadi acuan dalam merencanakan aktivitas sehari-hari maupun langkah mitigasi di berbagai sektor.
Dengan mengetahui jadwal puncak musim kemarau lebih awal, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi dampak cuaca kering yang diperkirakan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.
Baca Juga: Pramono Anung Luncurkan Cara Pembayaran Baru Naik MRT, Cukup Tap Kartu Kredit
FAQ
Mengapa Agustus disebut sebagai bulan terpanas pada musim kemarau 2026?
Karena hampir 48,48 persen wilayah Indonesia diperkirakan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Kondisi ini diperkuat oleh fenomena El Nino yang mengurangi curah hujan di banyak daerah.
Apa penyebab musim kemarau 2026 diperkirakan lebih kering?
BMKG menjelaskan bahwa fenomena El Nino berkategori sangat kuat menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan curah hujan berkurang hingga Oktober 2026.
Bagaimana cara menghadapi dampak musim kemarau 2026?
BMKG menyarankan masyarakat menghemat penggunaan air, petani menyesuaikan jadwal tanam, pemerintah mengoptimalkan cadangan air, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan gangguan kesehatan akibat cuaca panas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









