Akurat Logo

Harga Mulai Rp75 Ribu, Sepatu Buatan BRIN Siap Penuhi Kebutuhan Sekolah Rakyat

Moehamad Dheny Permana | 6 Agustus 2026, 14:25 WIB
Harga Mulai Rp75 Ribu, Sepatu Buatan BRIN Siap Penuhi Kebutuhan Sekolah Rakyat
Kepala BRIN, Arif Satria, memamerkan sepatu buatan BRIN di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026). - Foto: Akurat.co/Moehamad Dheny Permana

AKURAT.CO Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menciptakan ratusan produk untuk mengatasi berbagai persoalan bangsa.

Berdasarkan laporan, ada sekitar 200 produk yang dihasilkan BRIN dan terbagi dalam 12 klaster.

"Produk kita ada sekitar 12 klaster. Kurang lebih setelah dikurasi, di atas 150 sampai 200 produk," kata Kepala BRIN, Arif Satria, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Arif menjelaskan, salah satu produk yang saat ini sudah dipakai yaitu sepatu. Pembuatan epatu tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto.

"Ini sepatu BRIN produk lokal, ini pak presiden juga pesan 'BRIN tolong dong bikin yang bisa menyelesaikan masalah sepatu'," ujarnya.

Baca Juga: Presiden Prabowo Terima BRIN Bahas Hasil Penelitian untuk Sukseskan Program Prioritas

Sepatu tersebut merupakan hasil penelitian BRIN di Serpong, Tangerang Selatan. Sepatu terbuat dari karet dan dapat dipasarkan dengan harga cukup murah.

BRIN berencana mencari mitra industri, agar dapat memproduksi sepatu lebih banyak dan dipasarkan ke masyarakat.

"Saat ini harga kan bervariasi, motifnya, bahannya, sekitar Rp75 ribuan. Ada juga yang di atas Rp100 ribu," tuturnya.

Sepatu yang dibuat oleh BRIN diharapkan bisa menjadi inovasi terkini, sekaligus dapat memenuhi kebutuhan siswa Sekolah Rakyat.

"Ya, memang nanti kita arahnya untuk bisa membantu Sekolah Rakyat," demikian Arif.

Baca Juga: BRIN Temukan Spesies Baru Ikan Gobi Udang di Banyuwangi

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.