Akurat
Pemprov Sumsel

Krisis Polusi Delhi Bikin Warga Enggan Punya Anak, Banyak yang Pindah ke Kota Lain

Kumoro Damarjati | 16 Oktober 2025, 14:09 WIB
Krisis Polusi Delhi Bikin Warga Enggan Punya Anak, Banyak yang Pindah ke Kota Lain

AKURAT.CO Tingkat polusi udara ekstrem di New Delhi membuat banyak keluarga muda India mempertimbangkan ulang keputusan untuk memiliki anak atau memilih pindah ke kota lain.

New Delhi dan wilayah metropolitan sekitarnya, yang berpenduduk lebih dari 30 juta jiwa, tercatat sebagai salah satu kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Kondisi ini membuat sejumlah warga memilih meninggalkan ibu kota untuk mencari lingkungan yang lebih sehat.

Salah satunya adalah Natasha Uppal, 36 tahun, yang bersama suaminya memutuskan pindah ke Bengaluru pada 2022, beberapa hari sebelum mengetahui dirinya hamil. “Ketika kami memikirkan apa yang bisa kami berikan untuk anak kami di Delhi, udara menjadi penghalang terbesar,” ujarnya kepada AFP.

Uppal, pendiri komunitas dukungan kesehatan ibu Matrescence India, menyebut langkah pindah sebagai keputusan terbaik bagi keluarganya. Meski Bengaluru juga menghadapi polusi udara hingga tiga kali lipat di atas ambang batas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tingkat pencemarannya masih jauh lebih rendah dibanding kabut asap tebal yang rutin melanda Delhi setiap musim dingin.

Polusi Tinggi dan Risiko Kesehatan

Setiap tahun, Delhi diselimuti kabut asap pekat akibat kombinasi pembakaran lahan, emisi pabrik, dan kemacetan lalu lintas. Tingkat PM2.5, partikel halus penyebab kanker yang bisa masuk ke aliran darah, dilaporkan mencapai hingga 60 kali lipat dari batas aman WHO.

Menurut studi The Lancet Planetary Health tahun 2023, sekitar 3,8 juta kematian di India antara 2009 hingga 2019 dikaitkan dengan paparan polusi udara. UNICEF juga memperingatkan bahwa udara tercemar meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan pada anak-anak.

Upaya pemerintah India untuk menekan polusi, seperti pembatasan kendaraan bermotor dan penyemprotan kabut oleh truk air, belum menunjukkan hasil signifikan. Tahun ini, otoritas berencana melakukan uji coba penyemaian awan untuk mengurangi kadar polutan.

Warga Memilih Pindah

Bagi sebagian warga seperti Vidushi Malhotra, keputusan pindah menjadi solusi terakhir. Setelah putranya berusia dua tahun sering jatuh sakit akibat udara kotor, keluarga ini meninggalkan Delhi dan menetap di Goa pada 2021. “Kami memiliki tiga pembersih udara di rumah, tapi itu tidak cukup,” katanya.

Namun, tidak semua warga memiliki pilihan yang sama. Roli Shrivastava, 34 tahun, masih bertahan di Delhi meski anaknya menderita batuk kronis setiap musim dingin. “Dokter bilang, jika anak saya mulai batuk malam hari, segera gunakan nebulizer,” ujarnya.

Shrivastava mengaku selalu menyiapkan inhaler dan nebulizer untuk anaknya serta memantau kualitas udara setiap hari. Ia mengatakan, kesehatan anaknya membaik drastis setiap kali keluarga berkunjung ke Chennai, kota di selatan India yang udaranya lebih bersih.

Meski masih bertahan karena alasan pekerjaan, Shrivastava tidak menutup kemungkinan pindah dari Delhi. “Dengan kondisi seperti ini, saya rasa Delhi bukan tempat yang baik untuk membesarkan anak — terutama karena polusi udara,” katanya.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.