Akurat
Pemprov Sumsel

Empat Pemain Naturalisasi Dinyatakan Pemain Lokal, Liga Super Malaysia Langgar Aturan Sendiri?

Hervin Saputra | 13 Maret 2026, 21:38 WIB
Empat Pemain Naturalisasi Dinyatakan Pemain Lokal, Liga Super Malaysia Langgar Aturan Sendiri?
Ilustrasi bola Liga Super Malaysia (MFL). X/Vocket FC

AKURAT.CO, Penolakan banding yang diajukan Asosiasi Sepakbola Malaysia (FAM) oleh Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) dalam kasus pemalsuan dokumen naturalisasi pemain kini memunculkan persilangan antara aturan internasional dan aturan lokal.

Pada 5 Maret lalu CAS mempertahankan sanksi FIFA yang menskors tujuh pemain yang dianggap melakukan pemalsuan dokumen untuk bermain bersama Tim Nasional Malaysia selama 12 bulan.

Pertanyaan baru adalah bagaimana status kewarganegaraan tujuh pemain tersebut? Apakah masih merupakan warga negara Malaysia, kembali ke kewarganegaraan sebelumnya, atau bahkan tanpa kewarganegaraan (stateless)?

Polemik ini muncul mengingat empat dari tujuh pemain dalam perkara ini merupakan pemain di dua klub Liga Super Malaysia.

Mereka adalah Joao Figueiredo, Jon Irazabal, dan Hector Hevel yang bermain di Johor Darul Ta’zim sementara Gabriel Palmero di Kuching City.

Otoritas Liga Sepakbola Malaysia (MFL) sudah mengesahkan bahwa empat pemain tersebut tetap warga Malaysia sehingga status mereka di kedua klub tersebut adalah pemain lokal.

Hanya saja, para pemain masih harus menjalani sanksi FIFA yang berarti belum bisa bermain untuk klub masing-masing sampai skors 12 bulan selesai.

“MFL mengesahkan tidak ada pelanggaran peraturan dilakukan dalam pendaftaran Figueiredo, Irazabal, Hevel, dan Palmero oleh klub mereka musim ini,” kata MFL sebagaimana dipetik dari Berita Harian.

“Bagaimanapun empat pemain tersebut masih perlu menjalani skors selama 12 bulan dalam pertandingan resmi seperti yang diputuskan oleg FIFA dan CAS baru-baru ini.”

Setali tiga uang, Sekretaris Jenderal AFC, Windsor John Paul, menerima keputusan MFL. Dengan kata lain, sanksi yang dijatuhkan FIFA hanya berlaku untuk Tim Nasional Malaysia.

“Dari sisi AFC, kami menerima keputusan MFL karena mengikuti Regulasi Kompetisi MFL. Aturan itu dibuat berdasarkan artikel kompetisi, seharusnya tidak ada masalah,” kata Windsor John Paul.

Polemik ini bercabang karena FIFA hanya memboleh seorang pemain berganti kewarganegaraan untuk membela tim nasional negara baru dengan syarat memiliki darah keturunan, lahir di negara bersangkutan, atau lima tahun tinggal di negara bersangkutan.

FIFA membuktikan ketujuh pemain yang diperkarakan tidak memenuhi tiga persyaratan itu. Malah, mereka memalsukan dokumen agar memenuhi syarat dan sudah bermain di beberapa laga resmi untuk Timnas Malaysia.

Pada saat yang sama, Kementerian Dalam Negeri Malaysia menyatakan pemberian kewarganegaraan terhadap tujuh pemain tersebut sah menurut regulasi mereka. Yakni dengan hak pregogratif kementerian.

Keputusan MFL mengesahkan para pemain tersebut menjadi pemain lokal juga bertentangan dengan aturan mereka sendiri. Yakni bahwa pemain naturalisasi harus mengikuti regulasi FIFA untuk bisa bermain di kompetisi Malaysia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.