Membayangkan Pariwisata Yang Bebas Sampah

SALAH satu ironi paling mengganggu dalam keseharian kita ketika di kawasan wisata adalah bagaimana persoalan sampah kerap diperlakukan sebagai urusan yang bebas "setelah tiket" dibeli wisatawan. Seakan-akan ada persepsi bahwa begitu tiket masuk dibayar, selesai sudah kewajiban moral seorang pengunjung.
Sampah yang dihasilkan—botol kemasan, bungkus makanan, tisu basah—dilepas begitu saja ke lingkungan, seolah ada tangan tak kasat mata yang akan membersihkannya.
Padahal, jika para wisatawan itu sendiri mau meluangkan sedikit perhatian pada sampah yang mereka hasilkan, bukan hanya keluhan tentang destinasi yang kotor akan berkurang. Reputasi destinasi wisata justru akan meningkat. Kebersihan bukan lagi beban, melainkan daya tarik.
Namun, realitasnya berbeda. Masih banyak di antara kita yang memaknai "wisata bersih" sebagai sesuatu yang harus disediakan oleh pengelola, bukan oleh diri sendiri. Ini adalah cermin dari individualisme konsumtif yang melepaskan tanggung jawab kolektif begitu transaksi selesai.
Upaya yang Ada, Namun Tak Cukup Keras
Sejujurnya, sudah ada upaya dari berbagai pihak untuk mengedukasi pengunjung. Tapi sayangnya, upaya itu belum cukup masih. Mengapa? Karena regulasi tidak terlalu keras. Atau mungkin karena persoalan sampah masih dianggap bisa diatasi dengan cara-cara tradisional: dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke Tempat Pembuagann Akhir (TPA).
Cara pandang semacam ini adalah pendekatan hilir yang membuat kita terus menerus berlari di tempat. Kita hanya sibuk membereskan akibat, tanpa pernah sungguh-sungguh bertanya: dari mana semua sampah ini berasal?
Namun kita juga tidak menutup diri ada secercah harapan. Di beberapa destinasi yang dikelola oleh anak-anak muda kritis, contoh di sebuah Muara Sungai, di Kabupaten Bekasi, semangat perubahan mulai tampak. Mereka tidak hanya memasang papan imbauan "dilarang buang sampah sembarangan", tetapi juga menjelaskan secara terbuka bagaimana sampah berdampak negatif bagi kehidupan manusia—dan yang lebih penting: solusi bersama yang bisa dilakukan.
Hal serupa juga pernah saya saksikan sendiri di Pacitan, juga di Pantai Carita, Banten. Di sana, pengelola berani merazia tas pengunjung dan melarang botol kemasan instan. Tapi mereka tidak melarang tumbler sendiri yang diisi air dari rumah. Ini adalah bentuk edukasi yang konkret dan tegas, bukan sekadar slogan.
Kontribusi-kontribusi kecil dari beragam pihak inilah yang hari ini begitu dibutuhkan. Namun, satu hal yang kurang digarap dengan detail: kita jarang melihat masalah ini dari hulunya.
Rumah Tangga sebagai Hulu yang Terlupakan
Dari kawasan wisata, kita bergeser sedikit ke tempat lain.
Coba bayangkan sejenak. Jika setiap orang, setiap rumah tangga di republik ini, berpikir dua kali sebelum membuang sampah—atau minimal mengelolanya secara mandiri. Bayangkan jika sampah organik tidak boleh dibuang ke tempat sampah, tetapi harus dijadikan kompos. Itu berarti setiap orang harus memiliki pengetahuan sedikit tentang pengelolaan sampah, dan sarana untuk mengelola sisa makanan dan sampah organik lainnya itu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







