Akurat Logo

Ketika Peran Satpam Mulai Tergusur: Refleksi Perubahan di Era Disrupsi

Agus Siswanto | 23 April 2026, 14:36 WIB
Ketika Peran Satpam Mulai Tergusur: Refleksi Perubahan di Era Disrupsi
Agus Siswanto, Pegawai Yayasan Syarif Hidayatullah, Jakarta

DUNIA terus berkembang dan berubah dengan sangat cepat. Teknologi mengalami kemajuan yang kian mutakhir dan transformasional. Pada era Revolusi Industri 4.0, manusia cenderung menginginkan segala sesuatu serba instan, cepat, dan efisien.

Perubahan ini tidak hanya memengaruhi perilaku individu, tetapi juga mengubah lanskap organisasi dan bisnis secara fundamental.

Bahkan, perusahaan besar sekalipun tidak kebal terhadap dampak disrupsi teknologi. Sejarah menunjukkan bahwa banyak korporasi yang gagal beradaptasi akhirnya mengalami kemunduran, bahkan kebangkrutan.

Dalam konteks global, laporan World Economic Forum menegaskan bahwa transformasi digital telah menggeser model bisnis konvensional menuju sistem berbasis teknologi, otomatisasi, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Baca Juga: Perkuat Mitigasi Ancaman, APJASI Luncurkan Standar Kompetensi untuk Satpam

Tidak ada kekuatan negara mana pun yang mampu membendung laju perkembangan teknologi, termasuk negara adidaya seperti Amerika Serikat.

Jika kita menengok ke belakang, pada era 1980-an, televisi merupakan media utama yang sangat digemari dan menjadi pusat informasi serta hiburan. Namun, pada era digital saat ini, posisi televisi mulai tergeser oleh perangkat digital seperti smartphone dan platform berbasis internet. Televisi kini lebih sering menjadi pelengkap ruang, bukan lagi pusat perhatian utama.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan teknologi bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah keniscayaan. Hal yang sama juga terjadi dalam sektor keamanan. Seiring dengan perkembangan teknologi, sistem pengamanan mengalami transformasi signifikan.

Kita tidak lagi bisa sepenuhnya bergantung pada sistem konvensional; sebaliknya, kita dituntut untuk memilih sistem pengamanan yang lebih efektif, efisien, dan adaptif guna menciptakan lingkungan yang aman, tertib, nyaman, dan berkelanjutan.

Pada era Revolusi Industri 4.0, berbagai perusahaan telah memanfaatkan teknologi untuk berbagai kebutuhan, mulai dari manajemen administrasi, pengelolaan basis data (database), hingga sistem keamanan terintegrasi. Dalam konteks sistem pengamanan, secara umum terdapat dua aspek utama, yaitu pengamanan sarana dan pengamanan prasarana.

Namun, dalam praktiknya, ketika perusahaan atau instansi menghadapi tekanan finansial atau menjalankan proyek besar dengan kebutuhan biaya tinggi, salah satu sektor yang sering mengalami penyesuaian adalah sistem keamanan.

Dalam banyak kasus, penggunaan tenaga manusia dalam bentuk petugas keamanan (satpam) mulai dipertimbangkan untuk digantikan atau dikombinasikan dengan teknologi modern. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari efisiensi operasional dan kebijakan manajerial yang ditetapkan oleh pimpinan organisasi.

Beberapa fungsi petugas keamanan yang secara teknis dapat digantikan oleh teknologi antara lain:

1. Fungsi penghalang atau pencegah tindak kejahatan, yang kini dapat digantikan oleh sistem portal otomatis, pagar elektronik, dan alarm keamanan.

2. Fungsi pengawasan dan pemantauan lingkungan, yang dapat digantikan oleh kamera pengawas atau Closed Circuit Television (CCTV) dengan kemampuan pemantauan real-time dan penyimpanan data digital.

3. Fungsi pemeriksaan fisik dan verifikasi identitas, yang kini dapat dilakukan melalui teknologi seperti metal detector, kartu identitas berbasis chip (RFID), hingga sistem biometrik.

Di berbagai institusi modern, teknologi keamanan bahkan telah berkembang lebih jauh, seperti penggunaan access control system berbasis kartu khusus, pintu otomatis dengan sidik jari (fingerprint), hingga sistem identifikasi retina atau lensa mata. Semua ini menunjukkan bahwa teknologi telah menjadi tulang punggung dalam sistem keamanan kontemporer.

Namun demikian, di tengah pesatnya perkembangan teknologi tersebut, terdapat satu aspek yang hingga saat ini belum sepenuhnya dapat digantikan oleh mesin, yaitu sikap responsif dan kepekaan manusia, khususnya yang dimiliki oleh petugas keamanan.

Sikap tanggap, kemampuan membaca situasi, empati, serta keputusan cepat dalam kondisi darurat merupakan kualitas manusiawi yang tidak sepenuhnya dapat direplikasi oleh teknologi.

Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia tetap menjadi hal yang krusial. Aspek performance atau kinerja petugas keamanan harus terus diperhatikan dan ditingkatkan. Sudah saatnya dilakukan revitalisasi sikap positif, yang mungkin mulai tergerus oleh berbagai faktor, seperti kejenuhan kerja, status kepegawaian (tetap atau kontrak), masa kerja yang panjang, maupun dinamika senioritas dalam organisasi.

Motivasi kerja juga perlu terus dipupuk. Salah satu kalimat sederhana namun sarat makna yang dapat membangkitkan semangat adalah:

“Saya membutuhkan pekerjaan ini.”

Kalimat tersebut mencerminkan kesadaran akan tanggung jawab, rasa syukur, serta dorongan untuk memberikan kinerja terbaik dalam setiap tugas yang dijalankan.

Pada akhirnya, perubahan adalah sebuah keniscayaan. Tidak ada satu pun individu atau organisasi yang dapat menghindarinya. Ketika kita tidak mampu beradaptasi dan bertransformasi, maka konsekuensi yang harus dihadapi adalah tereliminasi dari sistem yang terus berkembang.

Sebagai penutup, penulis mengajak seluruh pembaca untuk tidak bersikap alergi terhadap perubahan, baik pada level individu maupun kelompok. Masa depan adalah sesuatu yang penuh ketidakpastian, tetapi justru di situlah letak peluang.

Dengan kesiapan untuk terus belajar, memahami, dan menyesuaikan diri terhadap perubahan, kita akan mampu beradaptasi lebih cepat dan melakukan transformasi yang relevan dengan tuntutan zaman. [ ]

________

*Agus Siswanto, Pegawai Yayasan Syarif Hidayatullah, Jakarta

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
A