Penyebab Sistemik Kenapa Banyak Jemaah Haji Wafat Sebelum Puncak Haji

AKURAT.CO Setiap musim haji, kabar wafatnya jemaah Indonesia selalu berulang bahkan sebelum puncak ibadah haji dimulai di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Kabar terbaru, Minggu (10/5/2026) jumlah jemaah haji Indonesia wafat di Arab Saudi bertambah menjadi 20 jemaah.
Ironisnya, peristiwa ini terus terjadi di tengah semakin ketatnya syarat istithaah kesehatan, pemeriksaan medis berlapis, hingga pengawasan petugas yang jauh lebih modern dibanding satu dekade lalu.
Pertanyaannya: mengapa angka kematian tetap tinggi bahkan sebelum fase terberat haji dimulai?
Jawabannya tidak bisa hanya dilihat dari faktor usia, cuaca panas, atau penyakit bawaan. Ada problem yang jauh lebih mendasar, yakni persoalan sistemik dalam tata kelola pembinaan jemaah haji Indonesia.
Persoalan ini bukan semata teknis medis, tetapi juga menyangkut paradigma penyelenggaraan haji itu sendiri.
Sebagai mantan petugas haji Indonesia tahun 2023, saya melihat ada beberapa akar masalah yang selama ini kurang dibahas secara jujur.
Baca Juga: Jumlah Jemaah Haji Indonesia Wafat di Arab Saudi Bertambah Jadi 23 Orang
Pertama, manasik haji terlalu fokus pada fikih ibadah, tetapi minim fikih moderasi ibadah dan fikih kesehatan.
Selama ini, manasik haji lebih banyak membahas sah atau tidaknya ritual. Jemaah dijejali teori tentang rukun, wajib, sunnah, dam, miqat, thawaf, dan sebagainya. Namun, sedikit sekali pembahasan tentang bagaimana menjaga energi tubuh agar mampu bertahan hingga puncak haji.
Padahal, haji bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga ibadah fisik ekstrem. Cuaca di Arab Saudi bisa mencapai lebih dari 40 derajat Celsius. Jarak tempuh berjalan kaki sangat panjang. Kepadatan manusia luar biasa. Semua itu membutuhkan strategi fisik dan mental.
Sayangnya, sebagian jemaah justru datang dengan semangat “memaksimalkan ibadah” tanpa memahami konsep prioritas ibadah. Semua ingin dilakukan: umrah berkali-kali, salat arbain penuh, mengejar semua lokasi ziarah, hingga ibadah sunnah yang sebenarnya tidak wajib. Akibatnya, energi habis sebelum wukuf.
Di sinilah pentingnya fikih moderasi ibadah. Jemaah harus diajarkan bahwa menjaga keselamatan jiwa juga bagian dari syariat. Mengurangi ibadah sunnah demi menjaga stamina bukan berarti kurang taat, justru bagian dari maqashid syariah.
Baca Juga: Bukan Main! Lonjakan Haji Ilegal Capai 20 Ribu Kasus per Tahun
Kedua, kurang pekanya ketua kloter dan petugas haji dalam mengingatkan batas antara ibadah sunnah dan prioritas utama haji.
Dalam praktik lapangan, banyak petugas masih terjebak pada pola pelayanan administratif dan teknis semata. Padahal, tugas paling penting sebenarnya adalah mengendalikan ritme ibadah jemaah.
Banyak jemaah lansia tetap dipersilakan mengikuti aktivitas berat tanpa kontrol yang cukup ketat. Ada yang memaksakan umrah sunnah berkali-kali, berjalan jauh ke Masjidil Haram setiap waktu, bahkan tetap ikut ziarah padahal kondisi fisiknya menurun.
Petugas seharusnya lebih tegas mengedukasi bahwa puncak ibadah haji adalah Arafah, bukan perlombaan memperbanyak ibadah sunnah di awal kedatangan.
Kadang problemnya juga psikologis. Petugas sering sungkan melarang karena takut dianggap menghalangi ibadah. Padahal, pembatasan aktivitas tertentu bagi lansia justru bentuk perlindungan.
Ketiga, program city tour di Madinah dan Makkah sering kali terlalu menguras energi, terutama bagi jemaah lanjut usia.
Ziarah ke berbagai lokasi sejarah Islam memang penting secara spiritual dan edukatif. Namun, realitas di lapangan menunjukkan banyak jemaah lansia dipaksa mengikuti jadwal padat sejak hari-hari awal kedatangan.
Mereka berjalan di bawah panas terik, naik turun bus, berpindah lokasi berkali-kali, lalu tetap berusaha menjalankan ibadah rutin di masjid. Akibatnya, tubuh mengalami kelelahan akut yang efeknya sering muncul beberapa hari kemudian.
Ironisnya, sebagian jemaah merasa bersalah jika tidak ikut city tour karena takut dianggap kurang sempurna hajinya. Padahal, ziarah bukan rukun maupun wajib haji.
Sudah saatnya pola city tour dievaluasi. Untuk lansia dan jemaah risiko tinggi, aktivitas fisik berat seharusnya dibatasi sejak awal.
Keempat, banyak jemaah mengalami stres dan tekanan mental selama tinggal di hotel.
Ini problem yang sering diremehkan. Banyak orang mengira jemaah hanya mengalami kelelahan fisik. Padahal, tekanan psikologis selama haji sangat besar.
Kerinduan pada keluarga, adaptasi budaya, kepadatan manusia, ketakutan tersesat, hingga kecemasan menghadapi ibadah besar bisa memicu stres berat, terutama pada lansia.
Aktivitas pembinaan di hotel selama ini terlalu monoton. Biasanya hanya berupa senam ringan atau ceramah formal. Padahal, jemaah Indonesia punya tradisi spiritual kolektif yang kuat.
Saya justru melihat perlu ada pendekatan ruhani yang lebih membumi. Misalnya, forum dzikir bersama, halaqah kecil berdasarkan daerah asal, majelis shalawat, atau tradisi tarekat yang menenangkan mental jemaah. Ini bukan sekadar ritual tambahan, tetapi terapi psikologis yang sangat membantu stabilitas emosi.
Haji bukan hanya perjalanan tubuh, tetapi juga perjalanan mental.
Baca Juga: Cek Kesehatan Makin Ketat, Kenapa Masih Banyak Jemaah Haji Indonesia Wafat?
Kelima, edukasi kesehatan jemaah masih belum maksimal.
Banyak jemaah sebenarnya belum benar-benar memahami bagaimana menjaga kesehatan selama haji. Mereka tahu larangan formal, tetapi tidak memahami dampak serius dehidrasi, kelelahan, kurang tidur, atau paparan panas ekstrem.
Masih banyak jemaah yang malu menggunakan kursi roda, enggan minum oralit, memaksakan jalan kaki jauh, hingga menunda pemeriksaan kesehatan karena merasa ibadah lebih penting.
Edukasi kesehatan selama ini terlalu normatif dan administratif. Seharusnya dibuat lebih praktis, visual, sederhana, dan terus diulang selama operasional haji berlangsung.
Jika problem-problem sistemik ini tidak dibenahi, maka angka kematian jemaah sebelum puncak haji akan terus berulang setiap tahun. Haji tidak cukup hanya dipahami sebagai ritual spiritual, tetapi juga manajemen keselamatan manusia.
Sudah waktunya paradigma penyelenggaraan haji Indonesia bergeser: dari sekadar sukses ritual menuju sukses perlindungan jiwa jemaah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 4Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9PPh Final Royalti 1,5 Persen bagi Penulis Diberlakukan, Perkuat Ekosistem Literasi Nasional
- 10Kasus Penipuan Kripto Jalan di Tempat, Polda Metro Jaya Diminta Segera Beri Kepastian Hukum





