Madinah dan Disiplin Beribadah: Meneladani Etos Nabawi di Kota Rasulullah

Kota Madinah yang sebelumnya bernama Yatsrib ini menyimpan banyak guratan sejarah Islam, sebab mulai dari kota ini Islam perlahan tapi pasti terus berekspansi ke sejumlah wilayah luar Madinah, berkembang dan tumbuh subur.
Hingga kemudian Rasulullah SAW menetap dan meninggal di kota yang akrab disebut Madinah Al Munawwarah ini.
Destinasi Religi
Salah satu tujuan ke Kota Madinah selain ziarah ke makam Rasulullah SAW juga shalat di Masjid Nabawi. Mengapa Masjid Nabawi menjadi destinasi religi jamaah haji dan umrah? Karena Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَاتَشُدُّ الرِّحَالَ إلاَّ فِيْ ثَلَاثٍ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِيْ هَذَا وَاْلمَسْجِدِ الْأقْصَى (صحيح البخاري)
Dari Abi Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabda, “Janganlah kamu bersikeras untuk berkunjung kecuali pada tiga tempat, yaitu Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi), serta Masjidil Aqsa.” (HR Bukhari).
Dalam hadits ini, ada anjuran yang sangat kuat dari Nabi SAW untuk berziarah, mendatangi sekaligus beribadah di tiga masjid tersebut. Karena ketiga tempat itu mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki tempat lain di dunia ini.
Baca Juga: Puncak Haji 2026 Dibayangi Perang Timur Tengah Lagi, Arab Saudi Kerahkan Ribuan Tentara
Secara khusus terkait keistimewaan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, dalam sebuah hadits disebutkan:
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلاَةٌ فِيْ مَسْجِدِيْ هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيْمَا سِوَاهُ إلاَّ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ صَلاَةٌ فِيْ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفٍ فِيْمَا سِوَاهُ –مسند أحمد بن حنبل
Dari Jabir RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Melakukan shalat satu kali di masjidku ini lebih utama dari shalat seribu kali di tempat lain, kecuali Masjidil Haram. Dan melakukan shalat satu kali di Masjidil Haram lebih utama daripada melakukan shalat seratus ribu kali di tempat lainnya.” (Musnad Ahmad bin Hanbal).
Dari hadits ini menjelaskan bahwa melakukan shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi akan mendapatkan keutamaan yang sangat besar.
Karena itu, para ulama sangat menganjurkan orang yang sedang melakukan ibadah haji dan umrah sedapat mungkin memperbanyak ibadah di masjid tersebut.
Etos Nabawi
Kecuali Masjidil Haram, secara lebih spesifik lagi, salah satu hadits Nabi yang membicarakan tentang keistimewaan shalat di Masjid Nabawi adalah:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِينَ صَلَاةً لَا يَفُوتُهُ صَلَاةٌ كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَنَجَاةٌ مِنْ الْعَذَابِ وَبَرِئَ مِنْ النِّفَاقِ
Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) selama empat puluh kali berturut-turut, maka dicatat baginya kebebasan dari neraka, selamat dari azab, serta terbebas dari kemunafikan.” (Musnad Ahmad bin Hanbal).
Inti pesan dari hadis di atas sejatinya menggambarkan sebuah keniscayaan bahwa Kota Madinah dengan Masjid Nabawinya membekali etos beribadah dan mengajarkan disiplin waktu dalam beribadah.
Istiqamah beribadah di Madinah berarti keteguhan menjaga ibadah secara konsisten, terutama shalat berjamaah tepat waktu.
Di kota Nabi ini, setiap adzan menjadi panggilan yang menghidupkan hati, dan setiap langkah menuju masjid adalah latihan kesetiaan kepada Allah SWT.
Baca Juga: Kronologi Jemaah Haji Indonesia yang Hilang 7 Hari di Makkah Ditemukan Meninggal Dunia
Disiplin beribadah seharusnya tampak dalam kemampuan mengatur waktu: bangun lebih awal, bersegera ke masjid, dan tidak menunda-nunda kewajiban.
Aktivitas harian pun “tunduk” pada jadwal shalat, bukan sebaliknya. Dari sinilah diharapkan lahir ketertiban lahir yang menumbuhkan ketenangan batin.
Makna terdalamnya, istiqamah dan disiplin dalam beribadah di Madinah adalah latihan ruhani untuk membiasakan diri hidup terarah, taat, dan dekat dengan Allah SWT.
Harapannya, kebiasaan baik ini tidak berhenti di Tanah Suci, tetapi terus terbawa dalam kehidupan setelah kembali ke tanah air dan kediaman masing-masing.
Penulis: Musfiroh Nurlaili H (PPIH Arab Saudi 2026, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 4Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9PPh Final Royalti 1,5 Persen bagi Penulis Diberlakukan, Perkuat Ekosistem Literasi Nasional
- 10Kasus Penipuan Kripto Jalan di Tempat, Polda Metro Jaya Diminta Segera Beri Kepastian Hukum





