Elon Musk Diancam Dideportasi, Pindahkan Bisnis ke Cina?

AKURAT.CO Perselisihan antara Donald Trump dan Elon Musk memicu spekulasi soal pemindahan bisnis Musk ke Cina. Ketegangan ini dipicu ancaman Trump untuk mendeportasi Musk karena perbedaan pandangan politik dan pajak.
Trump menuding Musk mendapat subsidi besar dari pemerintah Amerika Serikat (AS). Ia menyebut tanpa bantuan itu, bisnis roket, mobil listrik dan satelit milik Musk bisa berhenti, bahkan Musk harus pulang ke Afrika Selatan.
Dikutip dari The Washington Post, Senin (14/7/2025), perusahaan Elon Musk telah menerima sekitar $38 miliar (sekitar Rp617 triliun) dari pemerintah. Dana tersebut diperoleh melalui kontrak, pinjaman dan berbagai bentuk subsidi.
Jika hubungan keduanya memburuk, sejumlah pakar memperkirakan Musk akan memperluas operasinya ke luar AS. Cina menjadi pilihan potensial karena memiliki infrastruktur dan rantai pasok yang kuat.
Namun, analis menilai Musk tidak bisa memindahkan seluruh bisnisnya, terutama SpaceX yang terkait pertahanan dan keamanan nasional AS. Pemindahan itu bisa memicu kekhawatiran politik jika menyangkut teknologi sensitif.
Tesla sudah lama beroperasi di Shanghai dan berkontribusi besar terhadap pertumbuhan pasar kendaraan listrik (EV) di Cina. Kehadiran pabrik Tesla di sana memperkuat posisinya dalam industri otomotif global.
Baca Juga: Trump Kecam Brasil Soal Pajak Digital dan Sensor Media Sosial, Ancam Tarif Tinggi
Meski demikian, Tesla menghadapi persaingan ketat dari merek lokal seperti BYD dan XPeng. Akibatnya, pangsa pasarnya di Cina turun dari 16 persen pada 2020 menjadi 6 persen pada 2024.
Zhou Yu, pakar dari Vassar College, menyebut Cina kini lebih unggul dari AS dalam teknologi EV. Ia menilai ekspansi R\&D ke sana sulit, meski Musk mungkin akan memperluas operasi manufaktur.
Bisnis seperti Neuralink dan Boring Company juga berisiko jika dipindah ke Cina, meski ada peluang uji coba. Cina mungkin tertarik pada teknologi Neuralink, tapi masalah etika dan perlindungan kekayaan intelektual tetap jadi perhatian.
Sementara ide Hyperloop Musk lebih dianggap sebagai inspirasi daripada kenyataan, proyek ini masih memiliki potensi. Cina dinilai cocok menjadi lokasi uji coba jika pengembangannya ingin dilanjutkan.
Analis menilai Cina bisa menggunakan kisah Musk untuk menyoroti bahwa sistem politik AS tak lagi mendukung inovasi. Tanpa kehadiran langsung Musk pun, Cina dapat memperkuat citra sebagai pusat teknologi yang stabil dan bebas ideologi.
Meski demikian, para ahli mengingatkan risiko jika Musk pindah ke Cina. Pemerintah setempat bisa membatasi akses ke aset atau kekayaan intelektualnya jika ia bertindak bertentangan dengan kebijakan negara.
Di media sosial Cina, sebagian warganet menyambut baik kemungkinan Musk pindah ke sana. Mereka menganggap Cina sebagai tempat yang cocok untuk talenta kreatif dan inovatif seperti Musk.
Namun, Zhou menegaskan bahwa meskipun Musk populer di kalangan masyarakat Cina, ia dianggap terlalu tidak stabil. Karena itu, pemerintah Cina dinilai tidak akan menjadikannya sebagai andalan.
Sementara itu, pakar lain menilai kemungkinan deportasi terhadap Musk sangat kecil terjadi. Meski secara hukum memungkinkan karena status kewarganegaraannya, langkah tersebut dinilai tidak realistis.
Dengan segala dinamika ini, masa depan kerajaan bisnis Musk masih belum pasti. Namun yang jelas, wacana pemindahan ke Cina menjadi sorotan dalam ketegangan geopolitik dan inovasi global saat ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








