Subaru Digugat Akibat Masalah Aki Mobil Cepat Soak

AKURAT.CO Produsen mobil Jepang Subaru kembali menghadapi gugatan hukum terkait masalah aki mobil yang disebut cepat habis atau mengalami battery drain.
Gugatan class action terbaru di Amerika Serikat menuduh sejumlah model Subaru mengalami gangguan kelistrikan yang menyebabkan aki tetap terkuras meski kendaraan dalam kondisi mati.
Kasus ini menjadi perhatian karena sejumlah pemilik kendaraan mengaku sudah beberapa kali mengganti aki, tetapi masalah tetap muncul. Mereka menyebut kendaraan sulit dinyalakan, mogok di jalan, hingga mengalami kerusakan sistem kelistrikan yang membuat mobil tidak dapat digunakan secara normal.
Gugatan terbaru ini memperluas sorotan terhadap masalah battery drain yang sebelumnya juga pernah memicu penyelesaian hukum terhadap beberapa model Subaru generasi lama.
Gugatan Sebut Sistem Kelistrikan Bermasalah
Dalam laporan yang dimuat Autoblog pada Kamis (7/5/2026), para penggugat berasal dari beberapa negara bagian di Amerika Serikat seperti New York, New Jersey, California, dan Texas. Mereka mengklaim sistem elektronik kendaraan Subaru tidak mampu mengelola konsumsi daya secara benar ketika mobil dimatikan.
Gugatan tersebut menyebut adanya modul kontrol elektronik yang gagal masuk ke mode hemat daya atau sleep mode. Akibatnya terjadi “parasitic battery drain”, yaitu kondisi aki tetap terkuras meski kendaraan tidak digunakan.
Beberapa model yang disebut dalam gugatan antara lain Subaru Outback 2021–2022, Forester 2021–2024, Legacy 2021–2023, WRX 2021–2023, hingga Crosstrek dan Impreza model tertentu.
Sebagian pemilik mengaku harus mengganti aki berkali-kali dengan biaya ratusan dolar. Salah satu penggugat disebut mengeluarkan biaya sekitar US$326 atau sekitar Rp5,3 juta untuk penggantian aki pertama sebelum masalah kembali muncul.
Masalah Battery Drain Sudah Lama Dikeluhkan
Keluhan terkait battery drain pada mobil Subaru sebenarnya sudah muncul sejak beberapa tahun lalu. Sebelumnya, Subaru juga menghadapi gugatan class action terkait model produksi 2015–2020 yang disebut mengalami masalah serupa.
Dalam kasus lama tersebut, gugatan menuding sistem Controller Area Network (CAN) kendaraan tidak masuk ke mode tidur setelah mobil dimatikan. Kondisi itu menyebabkan aki terus mengalirkan daya ke berbagai sistem elektronik kendaraan.
Beberapa pemilik kendaraan bahkan melaporkan harus mengganti aki hingga tiga sampai empat kali dalam periode penggunaan singkat. Gugatan terbaru menyebut masalah inti belum sepenuhnya terselesaikan meski Subaru telah melakukan penggantian aki dan memberikan perpanjangan garansi pada sebagian model terdampak.
Firma hukum yang menangani investigasi class action terbaru menyebut dugaan cacat kelistrikan dapat menyebabkan aki cepat rusak dan memaksa konsumen mengeluarkan biaya tambahan untuk diagnosis, derek kendaraan, hingga penggantian komponen.
Kasus ini masih berlangsung di pengadilan Amerika Serikat dan belum ada keputusan akhir terkait tanggung jawab Subaru atas dugaan cacat sistem kelistrikan tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal




