Orang Tua Lebih Takut Anak Kecanduan Internet Ketimbang Alkohol, Mengapa?

AKURAT.CO Para orang tua di Amerika khawatir penggunaan internet di kalangan remaja dapat membuat mereka terkena cyberbullying, konten berbahaya, dan membuat mereka kecanduan berdasarkan sebuah studi baru.
Sebuah survei terhadap sekitar 1.000 ibu dan ayah menemukan lebih dari 22% khawatir anak-anak mereka mungkin bergantung pada internet. Dua kali lebih banyak orang yang merasa khawatir akan kecanduan internet dibandingkan dengan mereka yang khawatir akan kecanduan zat-zat seperti obat-obatan terlarang atau alkohol.
Baca Juga: Buya Yahya Ungkap Cara agar Kecanduan Media Sosial Bisa Menjadi Berkah, ini Rahasianya
Ada alasan bagi orang tua untuk khawatir, kata Mitchell Prinstein, kepala petugas sains di American Psychological Association (APA).
Beberapa data menunjukkan bahwa sekitar 50% anak-anak melaporkan setidaknya satu gejala ketergantungan pada media sosial, kata Prinstein.
Survei baru yang dilakukan oleh para peneliti di Child Mind Institute di New York City dan lainnya, menyoroti perasaan orang tua saat mereka menavigasi remaja dan teknologi.
Meskipun sebagian orang khawatir akan kecanduan internet, banyak pula yang mengatakan bahwa internet telah mendekatkan keluarga dekat dan keluarga besar.
Rekan penulis studi, Dr. Giovanni Salum, yang juga direktur program di institut tersebut, mengatakan ada persepsi umum bahwa gangguan kesehatan mental meningkat seiring berjalannya waktu. Bukti menunjukkan bahwa penggunaan internet dan media sosial mungkin berkontribusi terhadap hal tersebut.
“Hal yang menarik dari penelitian ini adalah bahwa penelitian ini melihat kedua sisi yakni manfaat dan kerugiannya,” kata Salum.
Survei menunjukkan bahwa hampir dua per tiga orang tua khawatir terhadap konten internet yang berbahaya dan 53% khawatir terhadap penindasan online.
Namun, hampir separuhnya mengapresiasi peningkatan keterhubungan di antara anggota keluarga dekat dan sekitar 57% menyukai hal ini bagi keluarga besar.
Kalau internet hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang, tidak apa-apa, ujarnya. Namun jika hal tersebut mengganggu interaksi sosial dan sekolah, maka hal tersebut perlu dikhawatirkan.
“Banyak sekali manfaatnya. Hal utama yang menurut saya masih perlu kita pahami adalah mengenai keseimbangan,” kata Salum.
Survei dirilis secara online pada bulan Juni dan Juli 2022 terhadap orang tua yang memiliki anak berusia 9 hingga 15 tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








