AKURAT.CO Mindset yang salah ketika kita ingin anak kita sukses. Orang sukses belum tentu bahagia, tapi bahagia sudah pasti salah satu tanda kesuksesan.
Tanpa sadar, orang tua seringkali menerapkan VERSI SUKSES menurut dirinya sendiri. Padahal belum tentu versi sukses orang tuanya itu membuat anaknya bahagia. Padahal bahagia merupakan salah satu unsur anak merasa cukup, seperti sudah dijelaskan pada bab sebelumnya, dimana faktor merasa cukup pada diri anak itu sangat penting.
Baca Juga: 5 Tips Parenting Ala Capres Ganjar Pranowo, Yang Bisa Ditiru
Saya akan memberikan contoh, dimana ini sangat umum terjadi di dalam keluarga Indonesia. Orang tua biasanya memaksakan karir anak dan di mana anak harus bersekolah tanpa terlebih dahulu mengamati apa minat, bakat dan kemampuan anak. Misalnya, anak harus jadi dokter karena itu sudah tradisi turun temurun keluarga, atau anak dipaksa untuk menjadi bidan supaya bisa menikah dengan tentara, eh.... hihihi... padahal Moms, sebenarnya anak tidak berminat untuk menjadi dokter atau bidan tapi kita memaksanya.
Atau biasanya orang tua akan memaksa anak untuk menjadi pilot karena sebenarnya itu cita-cita dari orang tuanya di masa silam yang tidak kesampaian lalu dendam itu disalurkannyalah pada anaknya, karena kita dulu tidak sempat merasakan profesi atau mencapai cita-cita tersebut, padahal mungkin anak Anda lebih berminat menjadi atlet sepak bola atau musisi.
Padahal, yang paling penting adalah ketika anak merasa bahagia ketika harus melakoni apa yang dia cintai.
Baca Juga: Salurkan Hobi Gen Z-Milenial, Ganjar Muda Padjajaran Gelar Turnamen Mobile Legends
Cinta menimbulkan desire untuk melakukan hal-hal yang lebih dan lebih lagi sehingga justru kecenderungan anak dapat berhasil di bidang yang dia cintai justru presentasenya lebih besar, karena ada keinginanya untuk selalu mengeksplorasi apa yang dia sukai itu, ketimbang orang tua memaksa agar anak menjalani bidang tertentu.
Orang tua yang memaksa anak untuk melakoni bidang tertentu, tanpa melihat apa yang diminatinya juga disebabkan karena faktor orang tua yang malas dalam mengamati dan mengeksplorasi bakat anak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









