Ki Hadjar Dewantara Meyakini Bahwa Proses Belajar Harus Selaras Dengan Kodrat Anak. Pada Tiap Periode Usia Anak Memiliki Kekhususan yang Harus

AKURAT.CO Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, memiliki pandangan yang mendalam tentang proses belajar yang harus selaras dengan kodrat anak.
Menurutnya, setiap periode usia anak memiliki kekhususan yang harus dijadikan bahan pertimbangan dalam proses belajar.
Pada periode wirama, anak mulai menata bagaimana agar masa depannya senantiasa seirama dengan sesama dan semesta.
Pertanyaan lengkapnya adalah, Ki Hadjar Dewantara Meyakini Bahwa Proses Belajar Harus Selaras Dengan Kodrat Anak. Pada Tiap Periode Usia Anak Memiliki Kekhususan Yang Harus Dijadikan Bahan Pertimbangan Dalam Proses Belajar. Pada Periode Wirama, Anak Mulai Menata Bagaimana Agar Masa Depannya Senantiasa Seirama Dengan Sesama Dan Semesta. Anak Dipaparkan Pada Keputusan-Keputusan Mengenai Bagaimana Menebalkan Jati Dirinya Di Tengah Masyarakat Dan Lingkungan. Mereka Sadar Bagaimana Membawa Diri Sebagai Manusia Yang Merdeka. Mereka Sadar Betul Bahwa Ini Hidup Mereka, Ini Negara-Bangsa-Dan Tanah Air Mereka. Apa Yang Sebaiknya Guru Lakukan Pada Periode Ini?
Artikel ini akan membahas apa yang sebaiknya guru lakukan pada periode ini, berdasarkan penjelasan dari berbagai jurnal ilmiah diantaranya situs resmi Kemdikbud.
Pemahaman Periode Wirama
Periode wirama adalah fase di mana anak mulai menyadari pentingnya menata masa depan yang harmonis dengan sesama dan lingkungan.
Pada periode ini, anak dipaparkan pada keputusan-keputusan penting mengenai bagaimana menebalkan jati dirinya di tengah masyarakat dan lingkungan.
Mereka mulai memahami bagaimana membawa diri sebagai manusia yang merdeka dan bertanggung jawab.
Peran Guru dalam Periode Wirama
-
Memberikan Akses dan Pengalaman Belajar yang Luas
Guru harus fokus pada pemberian akses dan penyediaan pengalaman belajar yang memungkinkan anak untuk mengeksplorasi dunia mereka, baik diri sendiri, sesama, maupun lingkungan sekitar.
Misalnya, guru dapat mengajak siswa untuk terlibat dalam proyek-proyek komunitas yang mengajarkan nilai-nilai kebersamaan dan tanggung jawab sosial.
-
Menuntun dan Membimbing
Guru harus menuntun anak untuk melakukan, membiasakan, dan menginsyafi kebiasaan baik yang mereka lakukan di sekolah. Ini bukan sekadar mengikuti aturan, tetapi memahami alasan di balik tindakan tersebut. Misalnya, guru dapat mengajarkan pentingnya disiplin dengan memberikan contoh nyata dan menjelaskan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. -
Mendorong Pengelolaan Diri dan Pengenalan Potensi
Guru harus menantang anak dalam hal pengelolaan diri dan pengenalan potensi diri mereka.
Ini dapat dilakukan melalui kegiatan yang mendorong anak untuk mengenali kekuatan dan kelemahan mereka, serta bagaimana mengembangkan potensi yang dimiliki.
Misalnya, guru dapat mengadakan sesi refleksi diri atau diskusi kelompok yang membantu anak memahami diri mereka lebih baik.
-
Mengakomodasi Kebutuhan Perkembangan Jasmani dan Indera
Guru juga harus melanjutkan pendidikan yang mengakomodasi kebutuhan perkembangan jasmani dan indera anak yang belum usai.
Selain itu, guru harus mulai fokus dalam menuntun proses berpikir anak agar mereka semakin selaras dengan sesamanya dan lingkungannya.
Misalnya, melalui kegiatan olahraga dan seni yang tidak hanya mengembangkan fisik tetapi juga kreativitas dan kerja sama.
Kesimpulan
Pada periode wirama, peran guru sangat penting dalam menuntun anak untuk menata masa depan yang harmonis dengan sesama dan lingkungan.
Guru harus memberikan akses dan pengalaman belajar yang luas, menuntun dan membimbing anak, mendorong pengelolaan diri dan pengenalan potensi, serta mengakomodasi kebutuhan perkembangan jasmani dan indera.
Dengan pendekatan yang holistik ini, anak dapat tumbuh menjadi individu yang merdeka, bertanggung jawab, dan selaras dengan lingkungan sekitarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







