SMA Garuda: Langkah Strategis Pemerintah Tingkatkan Akses ke Kampus Top Dunia

AKURAT.CO Pemerintah melalui program transformasi sekolah unggulan dan pembangunan SMA Garuda menargetkan peningkatan signifikan dalam kualitas pendidikan menengah di Indonesia, khususnya untuk mempersiapkan siswa agar mampu menembus kampus-kampus top dunia.
Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO RI), Chacha Annisa, menyatakan, kehadiran SMA Garuda menjawab tantangan sistemik dalam pendidikan nasional.
"SMA Garuda akan melahirkan lulusan yang mampu bersaing secara global dan menjawab rendahnya representasi siswa Indonesia di kampus-kampus elite dunia," ujar Chacha dalam keterangannya.
Data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat 66 dari 81 negara, tertinggal dari sejumlah negara Asia Tenggara seperti Vietnam (28), Brunei (37), Malaysia (49), dan Thailand (52).
Menurut Chacha, rendahnya skor ini berbanding lurus dengan minimnya jumlah siswa Indonesia yang diterima di universitas top dunia.
"Di Harvard, hanya ada 5 mahasiswa asal Indonesia. Di Columbia University, hanya 11 orang. Bandingkan dengan Tiongkok yang memiliki lebih dari 1.200 mahasiswa di Cambridge, atau Singapura dan Malaysia yang masing-masing ratusan," ungkapnya.
Baca Juga: Bareskrim Resmi Hentikan Kasus Dugaan Ijazah Palsu Jokowi: Tak Ada Unsur Pidana
Secara keseluruhan, laporan Open Doors mencatat hanya sekitar 7.500–8.300 mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Amerika Serikat. Jumlah ini sangat timpang dibandingkan Tiongkok (120.000) dan India (110.000).
Program SMA Garuda hadir sebagai bagian dari Instruksi Presiden (Inpres) No. 7 Tahun 2025, yang diterbitkan Presiden Prabowo Subianto pada 27 Maret 2025.
Inpres tersebut memuat percepatan pembangunan satuan pendidikan, revitalisasi SMA unggulan, digitalisasi pembelajaran, serta pembangunan dan pengelolaan Sekolah Menengah Atas Unggul Garuda.
Tahun ini, 12 SMA unggulan akan bertransformasi menjadi SMA Garuda. Pemerintah juga akan membangun 5 SMA Garuda baru di wilayah prioritas, yakni IKN, Bangka Belitung, Sulawesi Utara, NTT, dan Papua Tengah.
"Presiden menekankan pentingnya keadilan akses pendidikan, terutama bagi siswa berprestasi dari luar Pulau Jawa," kata Chacha.
Tiga Pilar Pendukung SMA Garuda
-
Pembinaan Siswa
Meliputi persiapan akademik, pengembangan diri, personal branding, seleksi universitas, pemenuhan dokumen aplikasi, hingga persiapan pra-keberangkatan. -
Pelatihan Guru
Fokus pada strategi pendampingan siswa, penulisan esai, pemilihan ekstrakurikuler, serta penyusunan surat rekomendasi.
-
Pelatihan Manajemen Sekolah
Menguatkan peran college counselor untuk menjalin kemitraan dengan kampus top dunia dan mendampingi siswa selama proses aplikasi.
Dengan pendekatan ini, SMA Garuda diharapkan menjadi motor penggerak transformasi pendidikan nasional yang lebih inklusif, berkualitas, dan berdaya saing global.
Baca Juga: PIK 2–Blok M Kini Terhubung: Langkah Strategis Perkuat Pariwisata di Utara Jakarta
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







