Apa yang Dimaksud dengan Azas Konsentris dalam Menyikapi Keberagaman dan Masuknya Pengaruh Budaya Luar? Simak Inilah Jawaban yang Akurat

AKURAT.CO Simak inilah jawaban akurat soal, apa yang dimaksud dengan azas konsentris dalam menyikapi keberagaman dan masuknya pengaruh budaya luar?
Keberagaman budaya dan arus masuk pengaruh budaya luar merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan masyarakat modern, terutama di era globalisasi.
Dalam menghadapi dinamika ini, penting bagi bangsa Indonesia untuk memiliki prinsip yang jelas agar identitas dan karakter bangsa tetap terjaga.
Salah satu prinsip yang diusung oleh Ki Hadjar Dewantara adalah azas konsentris. Artikel ini membahas secara komprehensif pengertian azas konsentris, relevansinya dalam menyikapi keberagaman, serta bagaimana prinsip ini dapat menjadi panduan dalam menghadapi pengaruh budaya luar.
Baca Juga: Kecewa Madrasah Hilang dari RUU Sisdiknas, Legislator PAN: Perhatikan Azas Penyusunan UU!
Pengertian Azas Konsentris
Azas konsentris merupakan salah satu dari tiga prinsip utama dalam konsep Trikon yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara, bersama dengan asas kontinyu (berkesinambungan) dan konvergen (mengambil dari berbagai sumber).
Azas konsentris menekankan bahwa dalam menghadapi keberagaman dan pengaruh budaya luar, budaya dan karakter bangsa sendiri harus dijadikan pusat atau inti.
Artinya, segala bentuk pembaruan, adaptasi, maupun penerimaan unsur budaya luar harus dilakukan dengan tetap mempertahankan identitas dan kepribadian bangsa.
Prinsip ini mengajarkan bahwa keterbukaan terhadap budaya luar adalah hal yang baik, namun harus disertai dengan sikap selektif dan kritis.
Pengaruh dari luar tidak boleh diterima secara mentah-mentah, melainkan harus disaring dan disesuaikan dengan nilai-nilai budaya lokal agar tidak mengikis jati diri bangsa.
Azas Konsentris dalam Menyikapi Keberagaman
Dalam konteks keberagaman, azas konsentris menempatkan karakter budaya sendiri sebagai pusat dalam interaksi dengan budaya lain.
Setiap individu dan kelompok masyarakat didorong untuk memahami dan menghargai perbedaan, namun tetap berpegang teguh pada nilai-nilai budaya yang menjadi identitas bersama.
Dengan demikian, keberagaman tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan kekuatan yang memperkaya kehidupan bermasyarakat.
Azas Konsentris terhadap Pengaruh Budaya Luar
Ketika menghadapi masuknya pengaruh budaya luar, azas konsentris mengajarkan agar segala bentuk adaptasi dilakukan dengan menempatkan budaya sendiri sebagai filter utama.
Misalnya, dalam dunia pendidikan, pembelajaran dapat mengadopsi metode atau teknologi dari luar negeri, namun tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan, karakter, dan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.
Hal ini bertujuan agar kemajuan yang dicapai tidak mengorbankan identitas nasional.
Contoh Penerapan Azas Konsentris
-
Pembelajaran Kontekstual: Guru memulai pembelajaran dari lingkungan terdekat siswa, seperti budaya lokal, sebelum memperluas ke konteks nasional dan global.
-
Pelestarian Kesenian Daerah: Sekolah mengajarkan seni dan bahasa daerah sebagai bagian dari kurikulum, meskipun juga mempelajari seni dan bahasa asing.
-
Seleksi Budaya Populer: Remaja diajak untuk menikmati budaya populer dari luar negeri, seperti musik atau fashion, namun tetap diajarkan untuk bangga dan melestarikan budaya Indonesia.
Manfaat Azas Konsentris
-
Menjaga Identitas dan Jati Diri Bangsa: Budaya lokal tetap menjadi dasar dalam setiap perubahan dan adaptasi.
-
Meningkatkan Ketahanan Budaya: Masyarakat tidak mudah terombang-ambing oleh arus globalisasi karena memiliki pijakan yang kuat.
-
Mendorong Inovasi yang Kontekstual: Adaptasi budaya luar dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan dan karakter bangsa sendiri.
Kesimpulan
Azas konsentris adalah prinsip yang menempatkan budaya dan karakter bangsa sendiri sebagai pusat dalam menyikapi keberagaman dan pengaruh budaya luar.
Prinsip ini mengajarkan keterbukaan terhadap perubahan dan pembaruan, namun tetap selektif dan kritis agar identitas bangsa tidak hilang.
Dengan menerapkan azas konsentris, masyarakat Indonesia dapat menjadi bangsa yang maju tanpa kehilangan kepribadian dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendiri bangsa.
Prinsip ini sangat relevan untuk menjaga harmoni di tengah keberagaman dan arus globalisasi yang semakin kuat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









