Akurat
Pemprov Sumsel

Bagaimana Proses Kedatangan Jepang Pertama Kali di Indonesia? Berikut Kronologi Lengkapnya!

Naufal Lanten | 1 September 2025, 21:17 WIB
Bagaimana Proses Kedatangan Jepang Pertama Kali di Indonesia? Berikut Kronologi Lengkapnya!

AKURAT.CO Peristiwa masuknya Jepang ke Indonesia menjadi salah satu babak penting dalam sejarah nasional. Pendudukan yang berlangsung sejak 1942 hingga 1945 ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui rangkaian peristiwa besar yang terkait dengan Perang Dunia II. Bagaimana sebenarnya Jepang pertama kali masuk ke Indonesia dan apa tujuan mereka? Berikut penjelasan lengkapnya.


Awal Mula: Ambisi Jepang Membentuk Persemakmuran Asia Timur Raya

Pada awal 1940-an, Jepang mulai gencar mewujudkan cita-cita membentuk Persemakmuran Asia Timur Raya. Ambisi ini berangkat dari keinginan Jepang untuk menjadi pemimpin di kawasan Asia, sekaligus menguasai sumber daya alam strategis yang saat itu masih dikuasai bangsa Eropa.

Momentum besar terjadi pada 7 Desember 1941 ketika Jepang melancarkan serangan mendadak ke pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawaii. Serangan ini mengguncang Asia Pasifik dan menjadi pemicu meletusnya Perang Dunia II di kawasan tersebut.

Setelah itu, Jepang bergerak cepat menginvasi wilayah Asia Tenggara, termasuk Filipina, Malaya, dan Hindia Belanda (Indonesia). Sumber daya alam seperti minyak bumi, timah, dan aluminium menjadi incaran utama untuk menopang industri perang mereka.


Jalur Kedatangan Jepang ke Indonesia

Hanya 17 jam setelah Pearl Harbor, Jepang memulai invasi ke Filipina. Dari sana, pasukan Jepang bergerak ke selatan melalui jalur laut Indochina. Pada 13 Desember 1941, armada Jepang meninggalkan Teluk Cam Ranh di Indochina untuk menuju Kalimantan, salah satu wilayah Hindia Belanda yang kaya minyak.

Kalimantan saat itu terbagi dua: sebagian dikuasai Belanda, sementara bagian lain seperti Sarawak, Brunei, dan Kalimantan Utara berada di bawah protektorat Inggris. Target utama Jepang jelas: menguasai instalasi minyak di Tarakan.

Pendaratan pertama Jepang di Indonesia terjadi pada 11 Januari 1942 di Tarakan, Kalimantan Timur. Dari sini, Jepang terus memperluas wilayah kekuasaannya dengan cepat.


Kronologi Pendudukan Jepang di Indonesia

Serangan Jepang berlangsung sistematis, bergerak dari luar Jawa menuju pusat kekuasaan Belanda di Batavia. Berikut urutan kronologisnya:

  • 10 Januari 1942: Jepang mendarat di Manado, Sulawesi Utara.

  • 11 Januari 1942: Tarakan, Kalimantan Timur jatuh ke tangan Jepang.

  • 24 Januari 1942: Balikpapan berhasil dikuasai.

  • 29 Januari 1942: Jepang merebut Pontianak.

  • 3 Februari 1942: Samarinda jatuh.

  • 4 Februari 1942: Ambon resmi diduduki Jepang.

  • 10 Februari 1942: Jepang merebut Banjarmasin.

  • 16 Februari 1942: Palembang sebagai pusat minyak penting berhasil dikuasai.

Setelah menguasai wilayah strategis di luar Jawa, Jepang mengalihkan perhatian ke Pulau Jawa yang menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda. Pada 28 Februari 1942, pasukan Jepang mendarat di tiga titik sekaligus: Teluk Banten, Eretan Wetan (Jawa Barat), dan Kragen (Jawa Tengah).

Kekuatan militer Belanda tidak mampu membendung gempuran besar ini. Akhirnya, pada 8 Maret 1942, Gubernur Jenderal A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer bersama Letnan Jenderal Ter Poorten menyerah tanpa syarat di Kalijati, Subang, Jawa Barat, kepada Letnan Jenderal Hitoshi Imamura dari pihak Jepang.

Sejak hari itu, Jepang resmi menjadi penguasa baru di Indonesia.


Respon Rakyat Indonesia: Dari Harapan hingga Kekecewaan

Kedatangan Jepang awalnya disambut hangat oleh rakyat Indonesia. Banyak yang menganggap Jepang sebagai “saudara tua” dari Asia yang mampu membebaskan mereka dari cengkeraman kolonial Belanda.

Jepang pun pandai memainkan propaganda. Melalui gerakan 3A—“Jepang Pelindung Asia, Jepang Pemimpin Asia, Jepang Cahaya Asia”—mereka berusaha menanamkan kepercayaan pada rakyat. Selain itu, Jepang membentuk organisasi-organisasi seperti Putera (Pusat Tenaga Rakyat) dan Jawa Hokokai untuk merangkul kaum nasionalis, intelektual, serta tokoh masyarakat.

Namun, di balik semua itu, tujuan utama Jepang hanyalah memanfaatkan sumber daya Indonesia demi kemenangan perang melawan Sekutu. Eksploitasi tenaga kerja (romusha), penindasan, dan kekurangan pangan akhirnya menimbulkan penderitaan luas di kalangan rakyat.


Wilayah Pemerintahan Jepang di Indonesia

Setelah resmi mengambil alih kekuasaan, Jepang membagi Indonesia menjadi tiga wilayah pemerintahan militer:

  1. Wilayah I (Gunseibu) – Jawa dan Madura, dipimpin Tentara ke-16 di bawah Letnan Jenderal Hitoshi Imamura, dengan pusat di Batavia.

  2. Wilayah II (Rikugun) – Sumatera, dipimpin Tentara ke-25 di bawah Jenderal Tanabe, dengan pusat di Bukittinggi.

  3. Wilayah III (Kaigun) – Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua, dipimpin Armada Selatan ke-2 di bawah Laksamana Maeda, dengan pusat di Makassar.

Pembagian ini menunjukkan betapa seriusnya Jepang mengatur strategi untuk menguasai seluruh nusantara secara efektif.


Akhir Pendudukan Jepang dan Momentum Kemerdekaan Indonesia

Pendudukan Jepang di Indonesia hanya berlangsung sekitar tiga setengah tahun, namun meninggalkan dampak besar bagi perjalanan bangsa. Pada Agustus 1945, setelah Jepang menyerah kepada Sekutu akibat bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, kekuasaan mereka di Indonesia runtuh.

Kekosongan kekuasaan inilah yang dimanfaatkan para tokoh bangsa untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.


Kesimpulan

Proses masuknya Jepang ke Indonesia berawal dari ambisi membentuk Persemakmuran Asia Timur Raya dan serangan ke Pearl Harbor pada 7 Desember 1941. Dari Tarakan pada 11 Januari 1942 hingga pendaratan di Jawa pada 28 Februari 1942, Jepang berhasil menguasai Indonesia dalam waktu singkat. Penyerahan Belanda pada 8 Maret 1942 menandai dimulainya pendudukan Jepang.

Meskipun awalnya disambut sebagai “saudara tua”, kenyataannya Jepang lebih banyak mengeksploitasi Indonesia untuk kepentingan perang. Namun, masa pendudukan ini juga membuka jalan bagi lahirnya organisasi politik, lembaga persiapan kemerdekaan, hingga akhirnya proklamasi 17 Agustus 1945.


Baca Juga: 5 Peristiwa Demo Besar dalam Sejarah Islam

Baca Juga: Kembalinya Belanda Pasca-Kekalahan Jepang: Babak Penentuan Pertaruhan Kedaulatan Indonesia

FAQ Seputar Proses Masuknya Jepang ke Indonesia

Kapan Jepang pertama kali masuk ke Indonesia?

Jepang pertama kali masuk ke Indonesia pada 11 Januari 1942, saat mereka mendarat di Tarakan, Kalimantan Timur, dengan tujuan merebut instalasi minyak yang penting untuk perang.

Apa alasan Jepang datang ke Indonesia?

Tujuan utama Jepang adalah menguasai sumber daya alam strategis seperti minyak bumi, timah, dan aluminium untuk mendukung perang Asia Timur Raya. Selain itu, Indonesia dipandang sebagai wilayah penting dalam rencana Persemakmuran Asia Timur Raya.

Bagaimana reaksi rakyat Indonesia saat Jepang datang?

Awalnya, rakyat Indonesia menyambut Jepang dengan baik karena dianggap sebagai “saudara tua” dari Asia yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Belanda. Namun, harapan itu berubah menjadi kekecewaan karena Jepang justru melakukan eksploitasi besar-besaran.

Kota mana saja yang pertama kali diduduki Jepang sebelum ke Jawa?

Beberapa kota strategis yang lebih dulu jatuh ke tangan Jepang antara lain Tarakan (11 Januari 1942), Balikpapan (24 Januari 1942), Ambon (4 Februari 1942), Palembang (16 Februari 1942), serta Pontianak, Samarinda, dan Banjarmasin.

Bagaimana Belanda menyerah kepada Jepang?

Belanda menyerah tanpa syarat pada 8 Maret 1942 melalui Perjanjian Kalijati di Subang, Jawa Barat. Penyerahan ini dilakukan oleh Letnan Jenderal Ter Poorten dari pihak Belanda kepada Letnan Jenderal Hitoshi Imamura dari pihak Jepang.

Apa dampak pendudukan Jepang bagi Indonesia?

Pendudukan Jepang menimbulkan penderitaan besar seperti kerja paksa (romusha) dan kelaparan. Namun, masa ini juga membuka jalan bagi terbentuknya organisasi politik, BPUPKI, dan akhirnya proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.