Akurat
Pemprov Sumsel

Kesenjangan Digital dan Infrastruktur Jadi Tantangan dalam Pelaksanaan TKA

Ayu Rachmaningtyas | 20 April 2026, 12:27 WIB
Kesenjangan Digital dan Infrastruktur Jadi Tantangan dalam Pelaksanaan TKA
Komisi X DPR juga menyoroti masih terbatasnya sosialisasi terkait pelaksanaan TKA. (puslapdik.kemendikdasmen.go.id)

AKURAT.CO Komisi X DPR menyoroti masih adanya kesenjangan digital dan keterbatasan infrastruktur dalam pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Kondisi ini dinilai menjadi tantangan utama di berbagai daerah.

Anggota Komisi X DPR, Lita Machfud Arifin, mengatakan, pihaknya mendorong perbaikan menyeluruh agar pelaksanaan TKA pada 2027 dapat berjalan lebih optimal.

Pasalnya, dari hasil evaluasi di lapangan menunjukkan persoalan kesenjangan digital tidak hanya terjadi di daerah tertinggal, namun juga ditemukan di daerah yang relatif sudah maju.

"Secara umum, permasalahan (TKA) yang muncul (di Sumatera Selatan) hampir sama dengan daerah lain, terutama terkait kesenjangan digital. Bahkan, di wilayah yang relatif lebih maju seperti Surabaya dan Sidoarjo, persoalan ini masih terjadi," ujar Lita, kepada wartawan, Senin (20/4/2026).

Kondisi tersebut menjadi catatan penting bagi pemerintah dalam mempersiapkan pelaksanaan TKA ke depan. Khususnya dalam memastikan kesiapan infrastruktur serta pemerataan akses teknologi.

Baca Juga: Jadwal TKA Susulan 2026, Ini Syarat dan Cara Mengikutinya

Komisi X DPR juga menyoroti masih terbatasnya sosialisasi terkait pelaksanaan TKA. Menurut Lita, informasi mengenai mekanisme pelaksanaan, termasuk adanya uji coba (try out), belum sepenuhnya diketahui oleh para pemangku kepentingan di daerah.

"Disampaikan bahwa ada sosialisasi, termasuk semacam try out. Namun, kami sendiri baru mengetahui hal tersebut. Ke depan, sosialisasi harus diperluas agar peserta didik lebih siap," ujarnya.

Ia menekankan pentingnya kesiapan mental peserta didik dalam menghadapi TKA. Kurangnya pemahaman terhadap tujuan tes dapat menimbulkan rasa takut dan canggung, sehingga berdampak pada hasil yang tidak maksimal.

"Jangan sampai anak-anak yang sebenarnya mampu justru tidak maksimal karena sudah merasa takut terlebih dahulu. Apalagi, mereka belum memahami bahwa TKA ini tidak memengaruhi kelulusan," katanya.

Dari sisi tenaga pendidik, juga diperlukan peningkatan peran guru dalam mempersiapkan siswa, termasuk melalui latihan atau simulasi tes. Guru diharapkan lebih dahulu memahami mekanisme TKA agar dapat memberikan pendampingan yang optimal.

Baca Juga: TKA Ubah Cara Pandang: Dari Ujian Menegangkan Jadi Sarana Ukur Kemampuan Murid

Sedangkan dari sisi keluarga, Lita mengakui masih adanya keterbatasan, terutama di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Pasalnya, masih banyak orang tua yang belum memiliki akses terhadap perangkat teknologi, seperti komputer atau laptop, yang menjadi salah satu faktor penghambat.

Kendati demikian, ia tetap mengapresiasi pelaksanaan TKA perdana yang dinilai cukup baik sebagai tahap awal. Evaluasi yang dilakukan saat ini diharapkan menjadi dasar perbaikan ke depan.

"Kami optimistis pelaksanaan TKA pada 2027 akan jauh lebih baik seiring dengan evaluasi yang terus dilakukan oleh Komisi X DPR," demikian Lita.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.