Krisis Air dan Iklim Ancam Peradaban, Guru Besar UI Desak Langkah Preventif dan Terintegrasi

AKURAT.CO Prof. Ir. Firdaus Ali, M.Sc., Ph.D. resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap dalam bidang Rekayasa dan Inovasi Pengelolaan Air di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI), Rabu (6/5/2026).
Pengukuhan yang berlangsung di Makara Art Center UI itu turut dihadiri Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo dan Wakil Gubernur Rano Karno.
Dalam orasi ilmiahnya bertajuk “Krisis Iklim, Ketahanan Air dan Daya Dukung Lingkungan: Tantangan Kritis Peradaban Kota Modern”, Prof. Firdaus menegaskan, air merupakan fondasi utama peradaban sekaligus indikator batas daya dukung lingkungan.
Ia mengingatkan, meski sekitar 71 persen permukaan bumi tertutup air, kurang dari 1 persen yang dapat dimanfaatkan langsung sebagai air tawar untuk kebutuhan manusia.
Sementara itu, populasi dunia terus meningkat dan kini mendekati 8,3 miliar jiwa.
“Jumlah air tidak bertambah sejak awal peradaban, sementara kebutuhan terus meningkat. Ini menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan kehidupan,” ujarnya.
Menurutnya, tekanan terhadap sumber daya air semakin berat seiring pesatnya urbanisasi. Saat ini lebih dari 55 persen penduduk dunia tinggal di perkotaan dan diproyeksikan meningkat menjadi 68 persen pada 2050.
Di Indonesia sendiri, konsumsi air rumah tangga di kota telah mencapai 140–180 liter per orang per hari, melampaui kebutuhan dasar.
Secara global, lebih dari 2 miliar orang hidup di wilayah rawan air, bahkan sekitar 4 miliar orang mengalami kelangkaan air setidaknya satu bulan setiap tahun.
Baca Juga: Kelme Isyaratkan Luncurkan Jersey Baru Timnas Indonesia: Tunggu Keputusan PSSI!
Prof. Firdaus juga menyoroti dampak alih fungsi lahan di perkotaan yang merusak sistem hidrologi alami. Berkurangnya daya resap tanah meningkatkan limpasan air permukaan dan memperparah risiko banjir.
Kondisi tersebut diperburuk oleh eksploitasi air tanah yang berlebihan, yang memicu penurunan muka tanah serta intrusi air laut, terutama di wilayah pesisir.
“Krisis iklim memperparah situasi. Perubahan pola hujan, meningkatnya intensitas hujan ekstrem, dan kekeringan berkepanjangan membuat bencana air semakin sering terjadi,” jelasnya.
Ia mencatat, lebih dari 80 persen bencana alam global berkaitan dengan air, dengan kawasan Asia menjadi wilayah yang paling terdampak.
Untuk itu, Prof. Firdaus menekankan pentingnya pendekatan terintegrasi dalam pengelolaan air, mencakup aspek ekologis, sosial, ekonomi, tata kelola, hingga penegakan hukum.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur besar seperti tanggul laut tetap diperlukan, khususnya bagi kota pesisir, namun harus dibarengi dengan pengelolaan hulu-hilir yang terpadu.
Selain itu, pemanfaatan teknologi seperti big data dan kecerdasan buatan dinilai dapat meningkatkan akurasi prediksi bencana.
Meski demikian, ia menegaskan teknologi tidak akan efektif tanpa tata kelola yang kuat.
“Pendekatan preventif menjadi kunci. Investasi sekitar 1 persen dari nilai ekonomi wilayah untuk pencegahan terbukti mampu menekan kerugian akibat bencana secara signifikan,” katanya.
Prof. Firdaus menegaskan bahwa ketahanan air bukan sekadar isu teknis, melainkan investasi strategis bagi keberlanjutan pembangunan dan keselamatan peradaban.
Sebagai akademisi dan praktisi, Prof. Firdaus telah lama berkecimpung dalam bidang teknik lingkungan, khususnya pengelolaan air dan limbah.
Ia meraih gelar Sarjana Teknik Lingkungan dari Institut Teknologi Bandung pada 1988, serta gelar Magister dan Doktor di bidang Environmental Engineering dari University of Wisconsin–Madison, Amerika Serikat.
Selain mengajar di UI sejak 1988, ia juga aktif dalam perumusan kebijakan nasional, termasuk pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri PUPR bidang sumber daya air (2019–2024) dan kini sebagai Koordinator Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta.
Baca Juga: Jelang PPDB 2026/2027, Pemprov Jakarta Siapkan 23 Sekolah Swasta Gratis di Jaktim
Ia juga dikenal sebagai pendiri Indonesia Water Institute dan terlibat dalam berbagai forum internasional, serta berkontribusi dalam pengembangan konsep ketahanan air perkotaan, termasuk gagasan tanggul laut raksasa di Jakarta.
Melalui pengukuhan ini, Prof. Firdaus berharap dapat terus mendorong inovasi dan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan guna memperkuat ketahanan air serta mengurangi risiko bencana di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








