Akurat Logo

Viral Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026 Jadi Sorotan, Begini Kronologi Lengkapnya

Nurma Nafisa Faradilla | 12 Mei 2026, 09:06 WIB
Viral Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026 Jadi Sorotan, Begini Kronologi Lengkapnya
Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026. (Youtube MPRGOID)

AKURAT.CO Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar 2026 yang digelar Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Video cuplikan babak final di wilayah Kalimantan Barat ini viral setelah muncul dugaan ketidakadilan dalam penilaian dewan juri terhadap jawaban peserta.

Peristiwa itu ramai dibahas karena dua regu memberikan jawaban yang dinilai sama, namun mendapatkan keputusan berbeda dari juri. Insiden tersebut bahkan disebut memengaruhi hasil akhir perlombaan dan peluang menuju grand final nasional di Jakarta.

Kronologi Viral Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar 2026

Insiden terjadi pada babak final tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang mempertemukan tiga sekolah, yakni SMAN 1 Sanggau, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Pontianak.

Baca Juga: Cerdas Cermat di Era Digital: Sejarah, Pentingnya dan Cara Membuat Belajar Jadi Lebih Menyenangkan

Dalam sesi pertanyaan, dewan juri memberikan soal, “DPR dalam memilih anggota BPK diwajibkan untuk memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?”

Regu C dari SMAN 1 Pontianak kemudian menjawab, “Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden.”

Namun, jawaban tersebut dianggap salah oleh salah satu juri sehingga regu C mendapat pengurangan lima poin.

Pertanyaan kemudian dilempar ke regu lain. Regu B dari SMAN 1 Sambas memberikan jawaban yang dinilai netizen terdengar sama, yakni, “Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden.”

Kali ini, jawaban tersebut justru dinyatakan benar oleh juri dan regu B memperoleh tambahan poin.

Keputusan itu langsung memicu keberatan dari regu C SMAN 1 Pontianak. Perwakilan peserta mempertanyakan mengapa jawaban mereka dianggap salah padahal substansinya sama.

Juri kemudian menjelaskan bahwa regu C dinilai tidak menyebutkan “Dewan Perwakilan Daerah” dengan artikulasi yang jelas sehingga tidak terdengar oleh dewan juri.

Baca Juga: Cetak Generasi Cerdas dan Bermoral Kuat, Pemerintah Perkuat Pendidikan Pancasila untuk Anak Sekolah

Peserta bahkan sempat meminta pendapat penonton terkait apakah mereka mendengar penyebutan “DPD” dalam jawaban tersebut. Namun, dewan juri tetap pada keputusan awal dan menyatakan penilaian sepenuhnya menjadi kewenangan juri.

Salah satu dewan juri juga menegaskan bahwa sejak awal peserta telah diingatkan pentingnya artikulasi saat menjawab pertanyaan.

Kontroversi ini semakin ramai karena dianggap memengaruhi hasil akhir lomba. Adapun skor akhir yang diumumkan yaitu:

SMAN 1 Sanggau: 45 poin

SMAN 1 Sambas: 90 poin

SMAN 1 Pontianak: 70 poin

Dalam sistem penilaian lomba tersebut, jawaban benar mendapat tambahan 10 poin, sedangkan jawaban salah dikenai pengurangan 5 poin.

Banyak netizen kemudian menghitung ulang kemungkinan skor apabila jawaban regu C dianggap benar. Jika tidak dikurangi poin dan mendapat tambahan nilai, maka total SMAN 1 Pontianak diperkirakan mencapai 85 poin.

Sementara itu, SMAN 1 Sambas disebut hanya akan memperoleh 80 poin karena tidak mendapatkan poin dari soal lemparan. Dengan skenario tersebut, SMAN 1 Pontianak berpotensi keluar sebagai juara wilayah.

MPR RI Minta Maaf

Menanggapi viralnya insiden tersebut, Abcandra Muhammad Akbar Supratman menyampaikan permohonan maaf kepada publik dan peserta lomba.

Ia menyebut pihak MPR RI akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlombaan, termasuk mekanisme penjurian dan aspek teknis lainnya.

Baca Juga: Zulhas Dorong Pendidikan Karakter Lewat Lomba Cerdas Cermat Islam PANdai

Menurutnya, kejadian itu menjadi pelajaran penting agar pelaksanaan lomba ke depan lebih objektif, transparan, dan tidak menimbulkan polemik.

Selain penilaian juri, evaluasi juga disebut akan menyasar teknis tata suara serta mekanisme penyampaian keberatan atau banding dari peserta.

Viralnya lomba Cerdas Cermat Empat Pilar 2026 MPR RI menjadi pengingat penting bahwa transparansi dan ketelitian dalam penilaian sangat dibutuhkan dalam sebuah kompetisi pendidikan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.