Perubahan Perilaku Jokowi, Bukti Kegagalan Kaderisasi PDIP

AKURAT.CO Perubahan perilaku Presiden Jokowi menjelang berakhirnya masa kekuasaan menjadi bukti kegagalan kaderisasi PDIP. Sikap Jokowi yang sudah tak malu-malu lagi meninggalkan partai banteng, merupakan bentuk aksi-reaksi antara dirinya dengan PDIP.
Wakil Ketua Komandan Relawan Prabowo-Gibran, yang juga mantan sekretaris PDIP Sulut periode 1999-2004, Roy Maningkas, menyatakan demikian. Dia menganggap Jokowi tak bisa sepenuhnya disalahkan dan dituduh kemaruk kekuasaan dengan mendukung putra sulung, Gibran Rakabuming menjadi cawapres.
“Sebagai warga negara yang kebetulan saat ini menjabat presiden, Jokowi juga punya hak untuk menjalankan strateginya memajukan Indonesia. Dengan membebaskan Gibran sebagai cawapres Koalisi Indonesia Maju (KIM), Jokowi juga ingin membuktikan bahwa daulat rakyat tetap terjaga,” kata Roy, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (23/11/2023).
Baca Juga: Hoaks Reshuffle Ke-7 Jokowi, Perkeruh Hubungan Dengan PDIP
Roy menganggap PDIP melakukan kesalahan fatal dengan menempatkan Jokowi sebagai petugas partai, sejak memimpin Solo, hingga menjabat Presiden RI. Padahal, keduanya memiliki hubungan yang saling-menguntungkan, maka harus ada perlakuan setara.
Dia menilai, kehadiran Jokowi membawa dampak positif yang perlu disadari oleh para elite PDIP. Sebab, Jokowi hadir ketika PDIP terpuruk dan dua kali kalah pemilu.
"Tetapi kehadiran Jokowi di PDIP menambah jumlah pemilih baru dan meyakinkan pemilih lama untuk tetap mendukung PDIP," kata Roy yang juga salah satu pendiri Bara JP.
Baca Juga: Hubungan Jokowi-PDIP Memburuk, Pacul: Lihat Sendiri Saja...
"Artinya Pak Jokowi bukan datang dengan tangan kosong," ujarnya.
Menurutnya, sikap PDIP yang tidak memberikan porsi setara kepada Jokowi melunturkan semangat mutual benefit. Dia menyebut pula, Jokowi bukan kader ideologis tetapi mitra strategis PDIP yang gagal dibina, karena diposisikan sebagai petugas partai.
"Ini beda dengan kami-kami yang sejak tahun 1980, SMA, orde baru sudah jadi kader ideologis partai PDI, dan sejak mahasiswa sudah mengerti gerakan mahasiswa dengan pemahaman Marhenis, mungkin kalau kami-kami bolehlah dibilang petugas partai," tuturnya.
Baca Juga: Puan: PDIP Masih Dukung Jokowi
Posisi Jokowi yang tak memiliki peran ekstra di PDIP membuatnya harus bermanuver. Apalagi ada pernyataan-pernyataan yang mengerdilkan dirinya, padahal memberi dampak kemenangan hingga PDIP muncul sebagai partai penguasa dalam dua periode pemerintahan Jokowi.
“Apakah PDIP masih akan bertahan seperti sekarang ini kalau tidak ada faktor Jokowi? Jujur saja jika dari awal Jokowi tidak memberi manfaat bagi PDIP pasti beliau sudah ditendang keluar dari partai,” tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








