Akurat
Pemprov Sumsel

Tanpa Aparat Bisa Menang Pemilu, SBY Singgung Prestasi atau Mengamini Pernyataan Megawati?

Paskalis Rubedanto | 1 Desember 2023, 18:02 WIB
Tanpa Aparat Bisa Menang Pemilu, SBY Singgung Prestasi atau Mengamini Pernyataan Megawati?


AKURAT.CO Disengaja atau tidak, Ketua Majelis Tinggi Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), seolah mengamini pernyataan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Kedua tokoh yang pernah menjadi presiden mewanti-wanti netralitas aparat negara selama pelaksanaan Pemilu 2024.

Pengamat politik Firman Noor menyebut, pernyataan SBY yang disampaikan ketika memberi bekal pada para caleg Demokrat, di Cirebon, Kamis (30/11/2023), tepat untuk disampaikan. Setidaknya, SBY ingin memposisikan menang Pilpres 2004 mengalahkan Mega karena netralitas aparat tergaransi.

“Saya kira itu opini yang baik dari seorang presiden yang pernah memenangkan pertarungan ketika pernama kali (menang pilpres langsung) di 2004 itu kan, memang dia belum sebagai penguasa,” kata Firman, kepada Akurat.co, di Jakarta, Jumat (1/12/2023).

Baca Juga: Mega-SBY Bicara Netralitas, Satu Melawan Satu Menenangkan

Firman menilai, SBY ingin membakar semangat para caleg dan mesin Partai Demokrat untuk fokus memenangkan pemilu secara fair. Dirinya membeberkan pengalamannya karena bisa memenangi kontestasi pada Pemilu 2004 yang lalu.

“Jadi dia bisa tahu betul bagaimana kemenangan yang dia raih itu bisa tanpa harus mengenakan aparat, jadi ya itu belajar dari pengalaman saja, itu suatu ajakan yang baik dan positif,” kata dia.

SBY menyebut Indonesia sudah memiliki pengalaman menggelar pemilu presiden secara langsung, ditandai dari 2004. Pada masa sebelumnya, presiden ditetapkan melalui sidang umum MPR dan statusnya sebagai mandataris MPR, bukan hasil pemilu pilihan rakyat.

Baca Juga: Demokrat Tolak SBY Disebut Setengah Hati Dukung Prabowo-Gibran

Ketika memberi pembekalan, SBY juga menyinggung tanpa keterlibatan aparat bisa memenangi pemilu. Kalau berkaca pada peta Pemilu 2004, SBY yang mundur sebagai Menko Polhukam, berhadapan dengan Mega selaku petahana (incumbent).

Firman menilai, apa yang disampaikan SBY belum tentu membenarkan sikap Mega yang meminta relawan untuk tidak takut melawan tekanan. Bahkan Mega meminta aparat untuk netral, dan penguasa jangan berwatak orde baru.

SBY bersama Demokrat pada Pilpres 2024 berada dalam barisan pendukung Prabowo-Gibran. SBY ketika memberi pembekalan caleg juga menegaskan bahwa Demokrat memiliki dua target antara lain memenangkan Prabowo-Gibran sebagai capres-cawapres.

Baca Juga: Dapat Dukungan SBY Dan Jokowi Bikin Gerindra Tambah Semangat

Sedangkan Mega mengusung Ganjar-Mahfud, dan sudah pecah kongsi dengan Presiden Jokowi, kendati sering disebut-sebut sebagai kader terbaik PDIP. Artinya, pernyataan SBY-Mega bisa memiliki makna yang berbeda tergantung konteksnya.

“Silakan konfirmasi ke Pak SBY iya atau tidaknya," ujarnya.

Pernyataan SBY-Mega, lanjut Firman, juga menarik kalau dilihat secara objektif dari serangkaian peristiwa pemilu yang melibatkan petahana. Dia tidak menampik, isu netralitas selalu muncul kalau kontestasi melibatkan petahana.

Baca Juga: Jatim, Palagan SBY Menangkan Prabowo

Sedangkan Pilpres 2024, secara de facto dan de jure tak melibatkan petahana, karena Jokowi telah menghabiskan dua periode berkuasa secara berturut-turut. Bedanya, putra Jokowi, Gibran Rakabuming turut berkompetisi.

“Jadi Pak SBY berbalas pantun dengan Mega atau tidak, saya kira itu suatu pernyataan yang memang menarik khas SBY, sebagai sosok yang memenangkan kontestasi tanpa menggunakan kekuatan ASN atau PNS, begitu istilahnya,” tuturnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.