Akurat
Pemprov Sumsel

Jokowi Tantang OCCRP Buktikan Tuduhan Sebagai Pemimpin Terkorup

Oktaviani | 31 Desember 2024, 21:38 WIB
Jokowi Tantang OCCRP Buktikan Tuduhan Sebagai Pemimpin Terkorup

AKURAT.CO Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), merespons tuduhan yang menyebutnya sebagai salah satu pemimpin paling korup tahun 2024 menurut Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP).

Dengan nada tegas, ia meminta bukti atas klaim tersebut.

"Terkorup? Terkorup apa? Yang dikorupsi apa? Bukti mana?" ujar Jokowi saat ditemui di Solo, Jawa Tengah, Selasa (31/12/2024).

Jokowi menilai tuduhan itu sebagai bagian dari fitnah yang kerap diarahkan kepadanya belakangan ini.

Ia menyoroti maraknya framing negatif dan tuduhan tanpa dasar yang dilemparkan kepada dirinya.

Baca Juga: Evaluasi Hasil Pilkada 2024, Partai Golkar Akan Siapkan Strategi Lebih Baik

"Fitnah sekarang ini makin banyak. Framing jahat, tuduhan tanpa bukti, itu sudah biasa sekarang," tegasnya.

Ketika ditanya apakah tuduhan ini bermuatan politik, Jokowi hanya tertawa. Ia menyebut berbagai cara bisa digunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk menjatuhkan seseorang.

"Ya, tanyakan saja ke mereka. Semua bisa pakai kendaraan apapun. Bisa lewat NGO, partai, bahkan ormas untuk bikin framing atau tuduhan jahat," tambahnya.

Jokowi juga mengkritik pola penggunaan organisasi masyarakat dan lembaga internasional sebagai alat untuk menyebarkan tudingan tanpa fakta.

Tuduhan ini muncul setelah OCCRP memasukkan Jokowi dalam daftar nominasi pemimpin paling korup dunia tahun 2024.

Selain Jokowi, nama-nama seperti Presiden Kenya William Ruto, Presiden Nigeria Bola Ahmed Tinubu, Mantan Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina, dan pengusaha India Gautam Adani juga masuk dalam daftar tersebut.

Baca Juga: Bundaran HI Makin Padat, Ribuan Orang Sambut Tahun Baru Sampai Lesehan di Tengah Jalan

Publikasi ini memicu perdebatan luas, dengan banyak pihak mempertanyakan motif dan keabsahan laporan tersebut.

Jokowi sendiri menganggap tuduhan itu sebagai serangan yang tidak berdasar dan berbahaya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.