Peneliti BRIN: Pemerintahan Prabowo-Gibran Solid, Monolog Gibran Bukan Masalah

AKURAT.CO Video monolog yang diunggah Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, menuai kontroversi di ruang publik.
Sejumlah pihak menyampaikan kritik tajam, menyebut konten tersebut dramatis dan menimbulkan beragam tafsir.
Namun, Peneliti Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Firman Noor, menilai, reaksi tersebut lebih merupakan bentuk ekspresi publik ketimbang ancaman nyata terhadap stabilitas politik nasional.
“Saya kira tidak sejauh itu. Tidak ada indikasi serius bahwa video tersebut merupakan bentuk upaya mengguncang pemerintahan Presiden Prabowo dan Wapres Gibran,” ujar Firman saat dihubungi Akurat.co, Rabu (23/4/2025).
Firman menilai, kemunculan reaksi negatif merupakan akumulasi dari rasa kecewa yang masih tersisa pasca Pilpres 2024.
Menurutnya, masyarakat kini menemukan momen untuk menyalurkan ekspresi tersebut.
Baca Juga: Gerindra Sambut Dukungan PAN untuk Prabowo Maju Lagi di Pilpres 2029
“Sebetulnya ini ekspresi dari ‘kekesalan terselubung’ yang belum mendapat panggung. Dan kebetulan, video itu muncul dengan gaya yang percaya diri tapi juga sedikit nyeleneh, sehingga memicu komentar luas,” jelasnya.
Ia menambahkan, konten video tersebut terlihat berusaha menyampaikan pesan politik dengan cara yang tidak biasa.
Hal ini, kata Firman, menimbulkan kesan seolah Gibran ingin menunjukkan kecerdasan sekaligus daya tarik simbolik di tengah situasi politik yang sensitif.
Namun, Firman menegaskan, untuk bisa disebut sebagai upaya mengganggu stabilitas, harus ada unsur yang lebih kompleks, seperti keterlibatan kekuatan politik besar, militer, dan intelijen yang terorganisir.
“Kalau secara teori, guncangan stabilitas itu butuh lebih dari sekadar opini publik. Harus ada kekuatan yang benar-benar nyata dan solid untuk menggantikan pemerintahan yang sedang berjalan. Dan sejauh ini saya tidak melihat hal itu,” paparnya.
Ia menilai polemik video Gibran lebih tepat dipandang sebagai bagian dari dinamika demokrasi—sebuah bentuk kritik publik terhadap sistem politik saat ini, tanpa potensi nyata untuk merusak tatanan.
Baca Juga: Menko Pangan Takjub Gubernur Herman Deru Sulap Rawa Tempat Buaya Menjadi Sawah Produktif
“Jadi ini lebih ke ekspresi demokratis saja. Tidak sampai pada level yang bisa mengganggu stabilitas. Pemerintah saat ini masih cukup solid dan tidak mudah digoyahkan,” tutup Firman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









