Ahmad Ali Ungkap Peran Jokowi dalam Keputusannya Masuk PSI

AKURAT.CO Ketua Harian DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali, mengungkapkan, keputusannya bergabung dengan PSI tidak terlepas dari faktor Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi). Ia mengaku telah lama menjadikan Jokowi sebagai sosok teladan.
“Bagi saya Pak Jokowi itu teladan. Saya mengenal beliau cukup lama, sejak 2013. Komunikasi kami tidak terekspos, tapi intens,” kata Ahmad Ali dalam program wawancara khusus Akurat Talk: Ahmad Ali Bongkar Perintah Jokowi Genjot PSI, yang ditayangkan akun Youtube Akuratco, Jumat (27/2/2026).
Ahmad Ali menyebut, kedekatannya dengan Jokowi terbangun sejak 2013.
Selama lebih dari satu dekade, keduanya disebut kerap berkomunikasi dan berdiskusi, termasuk mengenai pilihan-pilihan politik.
Ia mencontohkan percakapan terakhirnya dengan Jokowi saat ditanya mengenai ketidakhadirannya dalam sebuah kongres Partai NasDem.
Saat itu, ia mengaku sedang menjalani pengobatan di luar negeri. Dalam perbincangan tersebut, Jokowi juga menyinggung adanya sejumlah partai yang mengajaknya bergabung.
“Pak Jokowi tanya, saya nyamannya di mana. Saya bilang, saya ikut Bapak saja. Yang penting jangan minta saya masuk PDIP,” ujarnya.
Baca Juga: Komisi IX DPR: Fraksi PDIP Tak Menolak Saat Pembahasan dan Pengesahan Anggaran MBG
Ahmad Ali juga mengaku pernah menjadi mediator komunikasi antara Jokowi dan Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, dalam situasi tertentu.
Peran tersebut, menurutnya, dilakukan tanpa publikasi dan bahkan kemungkinan tidak diketahui oleh Surya Paloh.
“Beberapa kali saya mengatur komunikasi Pak Jokowi dengan Pak Surya ketika ada hal-hal yang membutuhkan komunikasi. Mungkin sampai hari ini Pak Surya tidak pernah tahu,” katanya.
Meski demikian, ia menolak membeberkan dinamika internal partai lamanya. “Ada hal baik dan buruk. Yang buruk cukup untuk saya saja,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Ahmad Ali juga menyampaikan bahwa dirinya sempat diminta menjadi mentor bagi Kaesang Pangarep saat menjabat Ketua Umum PSI.
Awalnya, ia mengaku tidak harus bergabung secara resmi ke PSI untuk menjalankan peran tersebut. Namun, menurutnya, Jokowi mengisyaratkan agar ia masuk ke partai tersebut.
“Kalau Pak Mad masuk PSI, pasti PSI akan lompat. Saya menterjemahkan itu sebagai ajakan,” tuturnya.
Ia juga menyoroti banyaknya kritik yang diarahkan kepada Jokowi, terutama menjelang akhir masa jabatannya.
Ahmad Ali mengaku kagum karena menilai Jokowi tidak pernah menunjukkan kemarahan atau membalas kritik dengan serangan balik.
“Saya belum pernah melihat beliau marah. Saya kaget ketika ada tuduhan serakah atau macam-macam. Menurut saya, beliau ayah yang menyayangi keluarga dan mencintai Indonesia,” tegasnya.
Menurut Ahmad Ali, sikap tersebut menjadi salah satu alasan utama dirinya memilih tetap berada di PSI dan mendukung arah politik yang dinilainya sejalan dengan Jokowi.
“Belum pernah saya dengar beliau membela diri dengan menyerang balik,” pungkasnya.
Baca Juga: Kedubes Iran di Jakarta Kecam Serangan AS dan Israel ke Teheran
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








