Kecam Narasi Provokatif Anti Prabowo, Idrus Marham Ingatkan Bahaya Polarisasi

AKURAT.CO Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, mengecam berkembangnya narasi politik yang dinilai tendensius dan provokatif terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Dia mengingatkan agar dinamika tersebut tidak berkembang liar hingga mengganggu stabilitas nasional, terutama di tengah tekanan global yang meningkat.
Menurutnya, kegaduhan politik yang dipicu oleh pernyataan tokoh publik yang multitafsir berpotensi memperdalam polarisasi di masyarakat. Indonesia harus belajar dari pengalaman sejumlah negara yang mengalami instabilitas akibat disinformasi dan narasi yang tidak utuh.
"Indonesia tidak boleh masuk ke jebakan yang sama. Kita harus belajar dari pengalaman global bahwa instabilitas sering berawal dari narasi kontraproduktif yang tidak bertanggung jawab," kata Idrus kepada wartawan, di Jakarta, Senin (6/4/2026).
Polemik mencuat setelah pernyataan Islah Bahrawi yang menyinggung kondisi Presiden Prabowo, serta komentar Saiful Mujani yang dinilai memicu tafsir soal penjatuhan presiden. Meski telah ada klarifikasi, perdebatan di ruang publik telanjur melebar.
Idrus menilai persoalan tersebut bukan sekadar perbedaan pandangan, melainkan menyangkut etika komunikasi politik. Dia mengingatkan bahwa setiap pernyataan tokoh publik harus mempertimbangkan dampak sosial dan politik yang lebih luas.
"Dalam konteks politik yang dinamis, narasi seperti itu bisa ditafsirkan liar. Ini bukan hanya soal benar atau salah, tetapi soal dampak yang ditimbulkan," katanya.
Dia juga menegaskan bahwa sistem demokrasi Indonesia memiliki mekanisme konstitusional yang jelas dalam pergantian kekuasaan. Oleh karena itu, isu pemakzulan tidak bisa dibangun hanya dari opini atau spekulasi publik.
"Pemakzulan itu proses serius. Ada tahapan konstitusional yang panjang—melalui DPR, Mahkamah Konstitusi, hingga MPR. Tidak bisa digiring lewat opini publik atau narasi tidak utuh yang provokatif," tegasnya.
Baca Juga: Saiful Mujani Ajak Gulingkan Prabowo, Hasan Nasbi: Mereka Ukur Demokrasi dengan Isi Perutnya Sendiri
Selain itu, dia juga menyoroti tantangan komunikasi publik di era digital yang membuat informasi mudah dipelintir dan disebarkan secara cepat. Menurutnya, potongan pernyataan yang tidak utuh dapat membentuk persepsi publik yang bias dan mempercepat polarisasi.
"Kalimat yang dipotong bisa mengubah makna. Dan di situlah awal dari disinformasi. Maka kehati-hatian adalah keharusan, bukan pilihan," ujarnya.
Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian—mulai dari konflik geopolitik hingga tekanan ekonomi—Idrus menilai stabilitas politik nasional menjadi sangat krusial. Dia menekankan pentingnya menjaga ruang publik tetap sehat dan tidak dipenuhi narasi yang memecah belah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







