Akurat Logo

Hasto Puji Film 'Ghost in the Cell', Angka 2106 1961 Bertepatan dengan HUT Jokowi Jadi Sindiran

Saeful Anwar | 7 Juni 2026, 15:55 WIB
Hasto Puji Film 'Ghost in the Cell', Angka 2106 1961 Bertepatan dengan HUT Jokowi Jadi Sindiran
Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, usai menonton film Ghost in the Cell karya sutradara Joko Anwar yang diputar dalam rangka Bulan Bung Karno di Metropole XXI, Jakarta Pusat, Minggu (7/6/2026).

AKURAT.CO Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, memberikan apresiasi terhadap film Ghost in the Cell karya sutradara Joko Anwar yang diputar dalam rangka Bulan Bung Karno di Metropole XXI, Jakarta Pusat, Minggu (7/6/2026).

Menurut Hasto, film tersebut merupakan karya yang cerdas karena sarat dengan kritik sosial, perlawanan terhadap kapitalisme, serta pesan moral mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Di dalam Bulan Bung Karno, Badan Kebudayaan Nasional di bawah pimpinan Bung Once, hari ini mengajak kita semua untuk menyaksikan suatu film dari Joko Anwar yang menurut saya sangat cerdas," kata Hasto.

Ia menilai, film tersebut menyampaikan kritik tajam terhadap keserakahan, kapitalisme, dan praktik korupsi melalui simbol-simbol yang disisipkan secara artistik.

Hasto secara khusus menyoroti karakter seorang pengusaha korup bernama Prakarsa Kitabuming yang tetap menikmati kemewahan meski berada di penjara akibat kasus korupsi.

"Nah di dalam film ini Joko Anwar dengan sangat cerdas menyampaikan bagaimana ada pengusaha yang sangat tamak sehingga ketika dia ditangkap di penjara pun karena kasus korupsi, maka pengusaha yang namanya Prakarsa Kitabuming ini kemudian masih menikmati kemewahan yang luar biasa," ujarnya.

Ia juga menyinggung asal tokoh tersebut dari Solo serta nomor registrasi 2106 1961 yang menurutnya memiliki makna simbolik.

Seperti diketahui, angka 2106 1961 dapat dibaca sebagai 21 Juni 1961, yang merupakan tanggal kelahiran Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), Jokowi diketahui lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 21 Juni 1961.

Baca Juga: AVC Cup 2026: Tampil Kolektif dan Minim 'Error', Tim Voli Putri Indonesia Libas Iran

"Dan kemudian kritik sosialnya, dia berasal dari Solo. Nomor registrasinya 2106 1961. Ini sangat simbolik. Maka ini film yang mencerdaskan," kata Hasto.

Menurut Hasto, karya tersebut menunjukkan perkembangan kualitas perfilman Indonesia dalam menyampaikan kritik sosial dan politik melalui medium seni.

"Film Ghost in the Cell ini menunjukkan peningkatan peradaban dalam pembuatan film yang penuh dengan kritik sosial. Kader-kader PDI Perjuangan wajib menonton dan semuanya perlu melihat pesan-pesan yang disampaikan, meskipun terdapat unsur kengerian," ujarnya.

Ia menilai film tersebut menjadi pengingat bahwa berbagai persoalan sosial dan politik dapat terjadi apabila negara tidak dikelola dengan baik.

Bagi Hasto, Bulan Bung Karno merupakan momentum untuk membumikan kembali cita-cita kemerdekaan yang diperjuangkan Presiden pertama RI Soekarno, yakni mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan berdaulat.

"Maka ini menggugah kita agar Bulan Bung Karno menyadarkan kita semuanya untuk setia pada nilai-nilai moral, setia pada idealisme, setia pada etika di dalam kehidupan bersama," katanya.

Terkait pemutaran suara Bung Karno berbasis kecerdasan buatan (AI) sebelum film dimulai, Hasto menilai pemanfaatan teknologi tersebut sejalan dengan gagasan Soekarno mengenai pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Kami juga mengakrabi dengan berbagai pengembangan teknologi itu, tetapi kami bawa ke dalam hal-hal yang sesuai dengan ideologi dan cita-cita anak-anak muda. Jadi partai masuk dengan menggunakan teknologi untuk menyampaikan pesan-pesan politik, pesan yang membangkitkan idealisme, rasa cinta tanah air, dan semangat perjuangan," ujarnya.

Baca Juga: Moto3 Hungaria: Diwarnai Insiden Jatuh dan Sanksi, Veda Ega Pratama Amankan Start P9

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.