Akurat Logo

Megawati: Saya Bukan Musuh Prabowo

Putri Dinda Permata Sari | 15 Juni 2026, 15:27 WIB
Megawati: Saya Bukan Musuh Prabowo
Presiden Prabowo Subianto dan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.

AKURAT.CO Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, menegaskan bahwa dirinya memiliki hubungan baik dengan Presiden Prabowo Subianto, dan meminta publik tidak membenturkan hubungan keduanya demi kepentingan politik.

Ketua Umum PDIP itu mengatakan, persahabatannya dengan Prabowo tidak menghalangi perbedaan sikap politik dalam sistem demokrasi. Menurutnya, hubungan personal dan dinamika politik merupakan dua hal yang berbeda.

"Pak Prabowo sama saya bersahabat. Tapi kan harusnya dipisahkan, bersahabat ya bersahabat, tapi berpolitik kita bisa untuk apa? Untuk demokratisasi. Tapi saya bukan musuh dia, itu teman saya," kata Megawati, saat memberikan pidato dalam peresmian renovasi Istana Gebang dan patung Bung Karno di Blitar, Senin (15/6/2026).

Baca Juga: Megawati Soekarnoputri: 56 Tahun Status Hukum Bung Karno Menggantung

Dia mencontohkan kebersamaannya dengan Prabowo saat peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni lalu. Menurutnya, momen tersebut menunjukkan bahwa hubungan keduanya berjalan baik meski berada dalam posisi politik yang berbeda.

"Kamu lihat toh waktu 1 Juni? Aku kan gandengan sama dia, ketawa-ketawa. Ayo, apa artinya? Enggak ada," ujarnya.

Megawati mengaku mengetahui adanya upaya sejumlah pihak yang berusaha membangun narasi seolah dirinya berseberangan dengan Prabowo. Namun dia menegaskan bahwa perbedaan pandangan politik tidak berarti harus bermusuhan.

Baca Juga: Cerita Megawati Soekarnoputri Dididik di Istana: Orang Tua Saya Seniman, Anak-anak Wajib Belajar Menari

"Nanti baru orang teman-temannya yang maunya membenturkan, 'Oh Ibu Mega itu mau melawan Pak Prabowo'. Nanti bisa saya jawab. Jangan gitu dong," tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Megawati juga menyinggung pentingnya keberanian menyampaikan pendapat dalam negara demokrasi. Dia mengajak masyarakat untuk tetap kritis namun tetap berada dalam koridor hukum dan konstitusi.

Menurutnya, demokrasi yang sehat membutuhkan ruang dialog dan keberanian warga negara untuk menyampaikan pandangan tanpa rasa takut. "Karena negara kita ini punya tata hukumnya," pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.