Gaya Komunikasi Qodari Berisiko Turunkan Kepercayaan Publik ke Pemerintah

AKURAT.CO Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhammad Qodari, dinilai gagal menjalankan fungsi komunikasi pemerintah kepada publik. Pola komunikasi yang dibangun Qodari justru berpotensi menjadi beban bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menilai cara Qodari berkomunikasi memunculkan kesan bahwa dia lebih berperan sebagai juru bicara pribadi dibanding representasi pemerintah yang mengedepankan kepentingan publik.
"Qodari sendiri gagal mencerminkan elite yang berpihak pada publik, dia lebih seperti juru bicara pribadi dan ini berisiko terhadap nama baik pemerintah," kata Dedi saat dihubungi Akurat.co, Minggu (19/7/2026).
Baca Juga: Gaya Komunikasi Qodari Belum Mampu Jembatani Pemerintah dengan Publik, Bisa Jadi Bumerang
Menurutnya, komunikasi pemerintah seharusnya mampu menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat, terutama dalam menjelaskan berbagai kebijakan. Namun, fungsi tersebut dinilainya belum dijalankan secara optimal oleh Qodari.
"Komunikasi pemerintah pada publik tidak dijalankan dengan baik oleh Qodari. Pemerintah seharusnya sudah mengevaluasi itu," ujarnya.
Dia mengingatkan, apabila Qodari tetap menjadi wajah komunikasi pemerintah tanpa adanya evaluasi, maka kepercayaan publik terhadap Presiden Prabowo maupun pemerintah berpotensi terus menurun.
"Jika Qodari tetap dibiarkan mewakili komunikasi pemerintah, bukan tidak mungkin justru publik semakin tidak percaya pada Presiden maupun pemerintah, karena kualitas komunikasinya buruk," ucap Dedi.
Baca Juga: Gaya Komunikasi Qodari Bermasalah, Bakom Jadi Lebih Suka Menyerang daripada Mendengar
Selain itu, Presiden Prabowo perlu memberi perhatian serius terhadap kualitas komunikasi pemerintah karena tingkat kepercayaan publik dapat berimplikasi pada dinamika politik, termasuk pemilu mendatang.
Sebagai pembanding, Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mampu membangun komunikasi pemerintahan yang lebih efektif. Salah satu faktornya adalah adanya satu juru bicara pemerintah yang menjadi rujukan utama publik.
"Presiden sebaiknya perlu belajar dari cara SBY mengelola komunikasi, piawai dalam segala situasi, selain juga karena juru bicara era SBY hanya satu orang sehingga publik memiliki kepastian siapa yang perlu didengar dalam hal mewakili suara pemerintah," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








