AKURAT.CO Sejumlah karyawan KFC Indonesia yang jaringannya dikelola emiten PT PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) mengalami pemotongan gaji usai sepinya pelanggan sebagai dampak dari boikot produk yang diduga pro Israel.
Esep, 29 tahun, seorang karyawan KFC Indonesia yang posisinya sebagai marketing mengaku sudah terdampak pemotongan gaji sejak bulan lalu.
Tak tanggung-tanggung, pemotongan gaji yang dilakukan perusahaan mencapai 25% atau seperempatnya. Pemotongan gaji ini imbas dari sepinya pelanggan menyusul seruan boikot produk diduga pro Israel.
Baca Juga: Ketua Apindo Sebut Aksi Boikot Produk Pro Israel Rugikan Kita Sendiri
"Sudah sebulan lalu (pemotongan gaji), 25 persen," ujarnya kepada Akurat.co, Kamis (30/11/2023).
Berdasarkan penulusuran Akurat.co, sejumlah gerai KFC memang terpantau sepi. Misalnya KFC di Transmart Cilandak, yang saat didatangi Kamis siang, 30 November 2023 tampak tak seramai biasanya.
Tiwi, 29 tahun, karyawan yang sedang makan siang di KFC Transmart Cilandak mengaku tak risau dengan tudingan pro Israel. Pasalnya, menurutnya lebih baik dia mendukung sesama karyawan lokal.
"Saya sama teman-teman kantor sih memang sudah beberapa kali tetap makan di KFC, kasihan pegawainya ada yang beberapa sudah terkena pengurangan gaji, kita support pegawai lokal," timpal tiwi saat ditanya Akurat.co.
Dalam keterbukaan informasi BEI, manajemen emiten milik Keluarga Gelael dan Grup Salim tersebut mengaku sedang berfokus meracik sejumlah produk baru sembari merumuskan strategi promosi guna meningkatkan penjualan yang terdampak isu boikot produk diduga pro Israel.
Tercatat, hingga kuartal III-2023 FAST mencatatkan rugi usaha sebesar Rp146,62 miliar, berbanding terbalik dari laba usaha periode sebelumnya sebesar Rp20,48 miliar. FAST tercatat memiliki 757 gerai (termasuk Taco Bell) pada periode yang berakhir 30 September 2023.
Dampak ekonomi dari aksi boikot produk diduga pro Israel memang sangat terasa bagi pelaku usaha lokal.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W Kamdani mengatakan bahwa keluarnya list-list produk diduga pro Israel tersebut dianggap hoax karena belum ada data yang dikeluarkan secara resmi baik dari pemerintah, atau Majelis Ulama Islam (MUI).
"Kenyataannya, yang kami lihat sebagian besar adalah produk buatan Indonesia. Jadi ini (aksi boikot) merugikan kita sendiri,” kata Shinta belum lama ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










