GAPKI: Promosikan Produksi Sawit RI dengan ISPO Sudah Sesuai Standar Internasional

AKURAT.CO Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menjelaskan bahwa isu Regulasi Deforestasi Uni Eropa (EUDR) telah menjadi topik utama dalam implikasi terhadap industri kelapa sawit di Indonesia.
Pemerintah Indonesia telah menyatakan posisinya terhadap EUDR dan pentingnya sistem sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) sebagai komponen penting dari strategi yang lebih luas, termasuk Rencana Aksi Nasional Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan (RANKSB).
Sementara, posisi pemerintah Indonesia terhadap kebijakan deforestasi Uni Eropa adalah “Not Comply”.
Baca Juga: Beda Pose Anies, Prabowo dan Ganjar di Surat Suara, KPU: Yang Penting Sopan
Alasan penolakan utamanya adalah karena kebijakan EUDR dianggap sebagai keputusan yang dihasilkan secara internal oleh Uni Eropa tanpa melibatkan secara formal negara-negara produsen, termasuk Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Bidang Perkebunan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Aziz Hidayat mengatakan, asosiasi mengikuti peran dan posisi yang diambil oleh pemerintah.
“Saya kira posisi pemerintah tentu saja harus dihormati, mengingat beragam gagasan atau proposal EU terhadap sawit kita cenderung merugikan dan ini saya kira sebagai sikap tegas pemerintah,” kata Aziz dikutip Jumat (31/11/2023).
Baca Juga: Tampil Dengan Wajah Baru, BNI Emerald Siap Jadi Terbaik di Industri Wealth Management
Sementara Aziz juga menjelaskan peran ISPO bagi Indonesia yang dianggap sudah sesuai dengan standar internasional dan telah memiliki dampak positif dalam pengelolaan sawit yang berkelanjutan.
“Standar keberlanjutan harus memenuhi 3 aspek, sosial, ekonomi, dan lingkungan tetapi kalau untuk ISPO ditambah ketaatan terhadap peraturan perundangan. Jadi kalau sudah punya ISPO, sesungguhnya sudah bisa memenuhi EUDR, apa lagi kalau ISPO telah selesai direvisi,” ucap Aziz.
Oleh karena itu, hal tersebut telah menggambarkan pentingnya peran ISPO dalam menjamin terciptanya standar keberlanjutan industri sawit di Indonesia.
Baca Juga: Majelis Dzikir Nurul Wathon Dukung Prabowo-Gibran, Ini Alasannya
Walaupun pengimplementasian ISPO, khususnya bagi petani kecil membutuhkan usaha yang lebih.
Sebagai tambahan, Direktur Eksekutif INDEF, Tauhid Ahmad juga menyampaikan bahwa pemberlakuan kebijakan EUDR menyebabkan timbulnya dampak multidimensi, terutama terhadap petani kecil dan supply chain sawit yang terisolasi.
Permasalahan utama pada kesesuaian penilaian ISPO dengan EUDR adalah terkait definisi hutan, cut off date, dan traceability.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









