Akurat
Pemprov Sumsel

Suntik Rp88,7 Miliar, Ford Motor Kempit 8,5 Persen Saham Pabrik Smelter Nikel di Kolaka Sultra

M. Rahman | 25 Desember 2023, 20:22 WIB
Suntik Rp88,7 Miliar, Ford Motor Kempit 8,5 Persen Saham Pabrik Smelter Nikel di Kolaka Sultra

AKURAT.CO Produsen otomotif global, Ford Motor resmi mengempit 8,5% saham PT Kolaka Nickel Indonesia, pemilik pabrik pengolahan atau smelter nikel di Blok Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Dalam kertebukaan informasi di BEI, Sekretaris Perusahaan PT Vale Indonesia Tbk (INCO), Filia Alandra mengatakan bahwa Ford Motor merogoh kocek Rp88,7 miliar untuk menyerap 88.716 saham perseroan dengan harga Rp1 juta per lembar saham.

Ditambahkan, masuknya Ford Motor ke perusahaan dilakukan dengan menambahkan modal ditempatkan dan disetor sebesar 88.716 saham baru, masing-masing dengan nilai nominal Rp1 juta yang akan diambil bagian seluruhnya oleh Ford Motor.

Baca Juga: Premanisme Di PSN Smelter Nikel Sultra Hambat Target Jokowi

Sebagai dampak penerbitan dan pengambilan bagian saham baru tersebut, struktur permodalan perusahaan berubah menjadi modal dasar sebesar Rp3,82 triliun terbagi atas 3.820.000 saham dengan nilai nominal masing-masing saham sebesar Rp1 juta.

Kemudian modal ditempatkan dan disetor sebesar Rp1,04 triliun terbagi atas 1.043.716 saham dengan nilai nominal masing-masing saham sebesar Rp1 juta.

"Dengan demikian struktur kepemilikan perusahaan saat ini adalah Huaqi (Singapore) Pte. Ltd. senilai Rp764 miliar setara 72,3%, PT Vale Indonesia Tbk senilai Rp191 miliar setara 18,30% dan Ford Motor Company senilai Rp88,7 miliar setara 8,5%," ujar Filia dikutip Senin (25/12/2023).

Sebelumnya Wakil Presiden Ford Model e Industrialisasi EV, Lisa Drake mengatakan rencana investasi ini akan membuat Ford memiliki kendali langsung dalam mendapatkan pasokan nikel yang dibutuhkan.

Pomalaa merupakan salah satu proyek startegis nasional atau PSN yang telah lama tertunda, dan menjadi percontohan penerapan teknologi high-pressure acid leaching atau HPAL dalam memproduksi bahan kimia dari bijih kadar rendah.

Sejauh ini memang terdapat sejumlah pabrik HPAL yang bermunculan di Asia Tenggara, tetapi masih ada kekhawatiran akan kredibilitas lingkungannya. Teknologi HPAL dinilai masih sulit untuk dikembangkan, dikelola, dan ditingkatkan bila dibandingkan dengan metode dan proses produksi nikel konvensional lainnya.

Indonesia dinilai menjadi sumber utama nikel yang siap digunakan untuk bahan baku baterai seiring adanya gelombang investasi kilang yang sebagian besar dilakukan oleh perusahaan China.

Ford sendiri berambisi untuk memproduksi hingga 2 juta unit mobil listrik per tahunnya pada akhir 2025. Perusahaan AS ini juga telah memiliki kesepakatan dengan Huayou untuk mengambil bahan baterai yang berasal dari pabrik Pomalaa.

Produsen mobil global lainnya juga tengah berlomba-lomba untuk memastikan terpenuhinya pasokan bahan baku baterai seperti seperti litium, kobalt, dan nikel dalam jangka panjang seiring dengan meningkatnya permintaan untuk mobil listrik. Salah satunya General Motors Co. yang menanamkan modalnya di tambang lithium AS dan Tesla milik Elon Musk yang tertarik untuk membeli produsen lithium.

 

Wakil Presiden Ford Model e Industrialisasi EV Lisa Drake mengatakan rencana investasi ini akan membuat Ford memiliki kendali langsung dalam mendapatkan pasokan nikel yang dibutuhkan.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul "Gandeng Vale (INCO), Ford Berambisi Masuk Proyek Baterai di Indonesia", Klik selengkapnya di sini: https://market.bisnis.com/read/20231205/192/1721081/gandeng-vale-inco-ford-berambisi-masuk-proyek-baterai-di-indonesia.
Penulis : Nuhansa Mikrefin Yoedo Putra - Bisnis.com


Download aplikasi Bisnis.com terbaru untuk akses lebih cepat dan nyaman di sini:
Android: http://bit.ly/AppsBisniscomPS
iOS: http://bit.ly/AppsBisniscomIOS
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa