Pemerintah Dorong IKM dan UKM Masuk Rantai Nilai Komponen Kendaraan Listrik Global

AKURAT.CO Pemerintah mendorong Industri Kecil Menengah (IKM) dan Usaha Kecil Menengah (UKM) agar masuk ke rantai nilai komponen kendaraan listrik global.
Meskipun tantangan teknologi masih ada, langkah strategis sedang dirancang untuk mengatasi hambatan tersebut. Tujuannya adalah mempercepat transisi ke mobil listrik yang ramah lingkungan.
Presiden Institut Otomotif Indonesia, I Made Dana Tangkas menyoroti kendala teknologi yang dihadapi UMKM dalam memproduksi komponen kendaraan listrik, khususnya dalam hal pembuatan baterai dan inverter. Meskipun produksi komponen bodi kendaraan listrik bisa diatasi, namun masih ada ketidaksiapan dalam menghadapi teknologi baterai dan inverter.
Baca Juga: INKA dan VKTR Kini Gandeng Barata Indonesia, Kembangkan Komponen Kendaraan Listrik
"Kalau body, interior tergantung desain motor listriknya, sehingga dillihat perspektif kemampuan teknologi, supplier ini sebenarnya membuat komponen body tidak masalah, yang jadi masalah ini kesiapan membuat teknologi baterai, inverter-nya," kata Made di Kantor Kemenkop UKM, Jumat (8/3/2024).
Tantangan lainnya adalah kurangnya infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian baterai, yang masih belum merata di seluruh wilayah.
Hal ini menyebabkan harga kendaraan listrik menjadi tinggi karena biaya baterai yang mencapai 40-60% dari total harga, serta kurangnya ketersediaan infrastruktur pengisian daya yang memadai.
"Tantangan ke depan bahwa harga produk kendaraan listrik roda dua dan roda tiga mahal karena baterai core teknologinya 40 persen hingga 60 persen. Juga masih terkendala infrastruktur belum semua infrastruktur merata, jadi perlu dikembangkan charging station ini, harus siap 3.000 sampai 5.000 watt," jelasnya.
Meskipun produksi kendaraan listrik meningkat, UMKM di sektor otomotif tetap relevan karena permintaan komponen kendaraan konvensional masih tinggi. Produsen kecil juga mulai mengeksplorasi produksi komponen kendaraan listrik.
Ia juga menekankan pentingnya menambah transformasi produk daripada beralih sepenuhnya ke kendaraan listrik, mengingat permintaan kendaraan bensin yang tetap tinggi hingga tahun 2030-2035.
"Saat ini, bukanlah saat untuk beralih sepenuhnya, tetapi menambahkan transformasi produk, karena permintaan untuk kendaraan berbahan bakar konvensional masih tetap ada" ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








