Komersialisasi Migas Diprioritaskan Untuk Penuhi Kebutuhan Dalam Negeri

AKURAT.CO Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) terus meningkatkan upaya komersialisasi minyak dan gas bumi, terutama setelah penemuan cadangan gas bumi besar-baru ini.
Fokus utama saat ini adalah memastikan bahwa produksi minyak dan gas nasional diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan mewajibkan produsen minyak untuk pertama-tama menawarkan hasil produksi mereka kepada Pertamina.
Kepala Divisi Komersialisasi Minyak dan Gas Bumi SKK Migas, Rayendra Sidik mengatakan bahwa dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) Nomor 18 Tahun 2021 tentang Prioritas Pemanfaatan Minyak Bumi untuk Pemenuhan Kebutuhan Dalam Negeri, diamanatkan bahwa para produsen harus terlebih dahulu menawarkan hasil produksinya kepada Pertamina atau badan usaha pemegang izin usaha pengolahan minyak di dalam negeri.
Baca Juga: Bos SKK MIgas Beberkan Penyebab Target Lifting Migas 2023 Tak Tercapai
"Minyak-minyak itu wajib ditawarkan ke Pertamina terlebih dahulu. Jika tidak bisa karena berbagai alasan seperti kesepakatan harga atau kendala teknis di kilang, baru kemudian dapat diekspor," ungkap Rayendra dalam keterangan tertulis, Sabtu, (30/3/2024).
Rayendra menambahkan bahwa hanya ada dua jenis minyak yang langsung diekspor, dan jumlahnya pun tidak signifikan karena jenis minyak dengan kadar sulfur tinggi tidak dapat diolah di fasilitas kilang dalam negeri.
Tidak hanya minyak, gas bumi juga menjadi fokus utama untuk memenuhi kebutuhan domestik. Data SKK Migas menunjukkan bahwa sebagian besar produksi gas bumi dialokasikan untuk pasar dalam negeri, dengan hanya sekitar seperempatnya diekspor dalam bentuk LNG atau melalui pipa.
Sisa produksi tersebut digunakan untuk berbagai keperluan di dalam negeri, termasuk industri, pupuk, kelistrikan, dan lainnya.
Selanjutnya, Rayendra menjelaskan bahwa dalam proses komersialisasi gas bumi, tantangan utama adalah menyerap pasar dan membangun infrastruktur yang diperlukan untuk mendistribusikan gas langsung ke konsumen. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan pengembangan infrastruktur jaringan pipa gas dan pembangunan pabrik LNG.
Menyikapi hal ini, Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Hudi Suryodipuro, menekankan pentingnya melakukan komersialisasi minyak dan gas bumi secara transparan dan hati-hati. Dia menegaskan bahwa sektor hulu migas memiliki peran vital dalam pertumbuhan ekonomi dan pembangunan negara.
"Perlu dipahami bahwa proses komersialisasi migas tidaklah mudah dan tidak semua orang memahaminya dengan baik. Ada proses dan prosedur yang harus diikuti sebelum penemuan tersebut dapat diproduksi dan dikomersialisasikan," ungkap Hudi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







