AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa Indonesia bagian barat masih memiliki potensi besar dalam sumber daya minyak dan gas bumi (migas), meskipun wilayah tersebut merupakan cekungan yang sudah tua atau mature.
Menurut Direktur Pembinaan Hulu Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Ariana Soemanto, bahwa dari total 21 kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) blok migas yang telah ditandatangani sejak tahun 2021, sebagian besar berada di wilayah barat.
Dia juga mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 54 blok yang akan dilelang dalam 5 tahun mendatang, termasuk 27 area untuk joint study yang akan dilelang dalam 3 tahun ke depan, dan 27 blok potensial lainnya untuk lelang reguler.
Baca Juga: Lelang Blok Migas Ditunda Akibat COVID-19, Pemerintah Siapkan Syarat dan Ketentuan Lebih Menarik
"Saat ini kita punya 54 blok potensial yang dimiliki pemerintah. Kami sudah menyiapkan kebijakan eksplorasi di 54 wilayah tersebut," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (17/5/2024).
Menurutnya, dari total 21 PSC baru yang ditandatangani, komitmen biaya eksplorasinya mencapai Rp4 triliun, ditambah dengan komitmen dari perpanjangan kontrak sebesar Rp11 triliun. Sehingga, total biaya eksplorasi sejak 3 tahun yang lalu telah mencapai Rp15 triliun.
Lebih lanjut, Ariana menjelaskan bahwa dari 21 kontrak blok baru tersebut, sebagian besar berada di Indonesia barat, seperti Blok Bireun Sigli, Offshore Northwest Aceh (Meulaboh), dan Blok Sangkar.
Namun, pemerintah juga menyiapkan blok-blok potensial di Indonesia Timur, seperti Blok Bobara di Papua yang baru saja dimenangkan oleh Perusahaan migas pelat merah asal Malaysia, Petronas Berhad.
Untuk meningkatkan daya tarik investasi di sektor hulu migas, pemerintah memberikan bagi hasil yang menarik, terutama untuk blok di Indonesia barat.
"Dari total 21 blok, 12 blok memberikan bagi hasil untuk kategori blok dengan risiko tinggi dan sangat tinggi, hingga 50 persen untuk blok gas bumi, dan 45 persen untuk blok minyak," kata Ariana.
Selain itu, Ariana juga menekankan bahwa rasio keberhasilan penawaran langsung adalah 76% dan rasio keberhasilan penawaran reguler adalah 21%. Oleh karena itu, dia sangat menyarankan kontraktor untuk melakukan studi bersama untuk penawaran langsung.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









