LAB 45: Tiga Faktor Penting bagi Kelas Menengah yang Harus Dijaga Pemerintah

AKURAT.CO Laboratorium Indonesia 2045 (LAB 45) menemukan ada tiga faktor utama yang perlu dijaga pemerintah untuk mendukung kelas menengah di Indonesia.
Hal ini diungkapkan oleh Analis Ekonomi Politik LAB 45, Indah Lestari, dalam Seminar Nasional Kecemasan Kelas Menengah: Terhimpit Transformasi Ekonomi yang berlangsung di Jakarta, Selasa (8/10/2024).
Indah Lestari menegaskan bahwa pendidikan yang berkualitas dan merata merupakan faktor terpenting bagi kelas menengah saat ini.
Menurutnya, pendidikan yang baik akan memungkinkan kelas menengah untuk terus mengakses pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan, sehingga mereka dapat mempertahankan perannya sebagai watchdog atau pengkritik yang konstruktif bagi pemerintah.
Baca Juga: Tinju Dunia Pekan Ini: Sempat Tertunda, Artur Beterbiev vs Dmitry Bivol Bakal Pecah di Riyadh
“Bagaimana kelas menengah nanti tetap bisa mengenyam pendidikan sehingga mereka tetap bisa mempertahankan posisinya sebagai watchdog atau expect complainer sebagai penyeimbang dari pemerintah itu sendiri,” ujarnya.
Selain pendidikan, Indah juga menekankan pentingnya menjaga lapangan pekerjaan yang memiliki nilai tambah tinggi. Hal ini dinilai krusial agar kelas menengah dapat terus bertumbuh dan berkontribusi dalam perekonomian.
Faktor terakhir yang disebutkan adalah penyediaan standar hidup yang layak, termasuk akses ke layanan kesehatan, tempat tinggal yang terjangkau, dan transportasi yang memadai.
Indah menekankan, kebijakan yang mempertimbangkan kebutuhan kelas menengah merupakan langkah yang perlu diambil oleh pemerintah untuk memastikan kelas menengah mampu menjalankan peran pentingnya dalam masyarakat.
Baca Juga: Ibu-ibu Bicara Udara Serukan Pentingnya Kualitas Udara Bersih di Pilkada Jakarta
“Kebijakan yang mempertimbangkan kebutuhan kelas menengah merupakan opsi yang perlu diambil oleh pemerintah untuk memastikan kelas menengah mampu menjalankan peran pentingnya,” tambahnya.
Dari sisi demokrasi, Indah juga mengingatkan pentingnya tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan kepastian hukum, serta menjamin kebebasan berekspresi sebagai bagian dari pilar demokrasi yang perlu dipertahankan.
Lebih lanjut, Indah menyebutkan bahwa Visi dan Misi Presiden dan Wakil Presiden Terpilih telah memuat sejumlah kebijakan yang mempertimbangkan kebutuhan kelas menengah.
Ia berharap kebijakan tersebut dapat memfasilitasi pencapaian skenario terbaik bagi perkembangan kelas menengah di Indonesia.
“Kita harus bersama-sama kembali menjadi watchdog Pbagi pemerintah untuk memastikan kebijakan ini berjalan sesuai harapan,” ujar Indah.
Sebagai gambaran, LAB 45 mengidentifikasi beberapa poin penting dalam visi pemerintah yang terkait dengan kebutuhan kelas menengah. Misalnya, kebijakan pendidikan dalam Asta Cita 4, lapangan pekerjaan di Asta Cita 2, 3, dan 7, serta standar hidup layak dalam Asta Cita 4 dan Program Jangka Pendek 1. Selain itu, kebijakan *good governance* dan demokrasi terdapat pada Misi 1 serta Asta Cita 1, 4, dan 7.
LAB 45 juga melakukan *scenario building* untuk memetakan posisi kelas menengah di Indonesia berdasarkan variabel ekonomi dan politik. Menurut skenario tersebut, pada masa Orde Baru, Indonesia berada dalam kuadran Pertumbuhan Berkualitas Rendah. Pada tahun 1998, penilaian ekonomi menurun sementara aspek politik mengalami perbaikan seiring dengan krisis finansial Asia dan kerusuhan yang menjadi puncak ketidakpuasan terhadap pemerintahan Orde Baru.
Kemajuan terlihat pada periode 2014-2019, di mana stabilitas ekonomi dan politik menciptakan kondisi ideal bagi peningkatan jumlah kelas menengah di Indonesia. Namun, pada tahun 2024, penilaian kembali menurun seiring dengan fenomena deindustrialisasi prematur yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.
Implementasi kebijakan yang tepat diharapkan dapat memperbaiki kondisi kelas menengah dan meningkatkan kesejahteraan mereka di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









