Akurat
Pemprov Sumsel

Gitar Buatan RI Mejeng di Sound Messe Osaka 2025, Potensi Transaksi Tembus Rp3,3 Miliar

Hefriday | 31 Mei 2025, 17:51 WIB
Gitar Buatan RI Mejeng di Sound Messe Osaka 2025, Potensi Transaksi Tembus Rp3,3 Miliar

AKURAT.CO Gitar produksi dalam negeri kembali mengukir prestasi di kancah internasional. Kali ini, panggungnya adalah Sound Messe Osaka 2025, pameran alat musik terbesar di Asia yang berlangsung pada 10—11 Mei 2025 di ATC Hall, Osaka, Jepang.

Gitar-gitar karya anak bangsa berhasil memikat hati lebih dari 15 calon pembeli potensial, baik dari dalam maupun luar Jepang.
 
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia mencatat, potensi transaksi awal dari pameran ini mencapai USD202,95 ribu atau sekitar Rp3,33 miliar.
 
Angka tersebut menjadi bukti bahwa produk alat musik Indonesia, khususnya gitar, memiliki daya saing kuat dan mulai diperhitungkan dalam pasar ekspor global.
 
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menyebut partisipasi Indonesia dalam Sound Messe 2025 sebagai langkah strategis untuk memasarkan produk alat musik nasional. 
 
 
“Capaian ini mencerminkan kualitas dan daya tarik gitar Indonesia di pasar internasional,” ungkapnya dalam keterangannya, Sabtu (31/5/2025) 
 
Dirinya juga menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendampingi para pelaku usaha agar potensi transaksi ini dapat dikembangkan menjadi kontrak bisnis jangka panjang.
 
Sebanyak enam produsen alat musik Indonesia turut memamerkan produk mereka dalam Paviliun Indonesia di Zona Akustik pameran ini.
 
Mereka adalah Batiksoul Guitar, Genta Guitar, RB Guitar and Harp, Sui Generis Straps, Jelajah Rattan, dan Seruniaudio. Paviliun ini difasilitasi oleh Kemendag RI melalui Ditjen PEN, ITPC Osaka, dan Konsulat Jenderal RI (KJRI) Osaka.
 
Sound Messe Osaka 2025 sendiri diikuti lebih dari 10.000 produsen alat musik dan dihadiri oleh lebih dari 8.000 pengunjung dari berbagai negara.
 
Pameran ini terbagi dalam tujuh zona yang mewakili berbagai kategori alat musik seperti Zona Akustik, Elektrik, Pedal Summit, dan Ukulele. Keikutsertaan Indonesia merupakan yang ketiga kalinya sejak pameran ini diselenggarakan.
 
Konsul Jenderal RI di Osaka, John Tjahjanto Boestami, menuturkan bahwa pasar Jepang menunjukkan potensi besar bagi produk alat musik Indonesia. 
 
“Gitar buatan Indonesia mulai memiliki tempat tersendiri di hati konsumen Jepang. Kami yakin, partisipasi di Sound Messe ini akan membuka peluang distribusi yang lebih luas,” ujar John.
 
Senada dengan John, Direktur Pengembangan Ekspor Produk Manufaktur Kemendag, Deden Muhammad F.S., menambahkan bahwa pasar Jepang termasuk kategori premium, sehingga partisipasi di ajang ini menjadi sangat penting.
 
Ia menyebut kerja sama Indonesia dan Jepang melalui Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) berpotensi memperluas akses pasar gitar Indonesia secara signifikan.
 
Selain sebagai ajang transaksi, Sound Messe 2025 juga menjadi tempat bagi para pelaku usaha Indonesia untuk belajar dari tren global.
 
Deden menyebut bahwa mengikuti pameran internasional semacam ini memberikan inspirasi bagi pelaku industri dalam menciptakan desain dan kualitas produk yang sesuai dengan permintaan pasar global.
 
Salah satu produsen, Seruniaudio, menyatakan rasa terima kasih atas dukungan dari pemerintah. Mereka mengaku telah bertemu dengan dealer potensial di Jepang yang tertarik memasarkan produk mereka. 
 
“Kami optimistis bisa memperluas jangkauan distribusi tahun ini,” ujar perwakilan perusahaan tersebut.
 
Berdasarkan data Japan Customs 2024, Indonesia menempati posisi keempat sebagai pemasok gitar akustik ke Jepang dengan nilai ekspor USD2,40 juta dan pangsa pasar sebesar 7,20%.
 
Sementara untuk kategori alat musik secara keseluruhan, Indonesia berada di peringkat kedua dengan nilai ekspor USD109,24 juta, hanya terpaut dari Tiongkok yang memimpin dengan USD127,7 juta.
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa