Perpres NEPIO Hampir Rampung, Pemerintah Siap Kembangkan Energi Nuklir

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengungkapkan pemerintah masih memfinalisasi penyusunan Peraturan Presiden (Perpres) terkait pembentukan Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO).
Direktur Jenderal Energi Baru,Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi menargetkan Perpres NEPIO sebagai landasan hukum pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia itu rampung dalam waktu dekat.
"Targetnya tahun ini, kalau target saya pribadi satu bulan dari sekarang (rampung)," ujarnya, dikutip Kamis (4/6/2025).
Baca Juga: Kementerian ESDM Luncurkan UK PACT Efisiensi Energi Tahap ll
Eniya menuturkan, draf Perpres NEPIO tersebut baru menyelesaikan drafnya, Selasa (3/6/3035) malam.
Namun diungkapkannya, Wakil Menteri ESDM Yuliot memintanya untuk mendiskusikan draf tersebut dengan beberapa kementerian dan lembaga terkait seperti Dewan Energi Nasional, Bapeten, BRIN, Sekretariat Negara (Setneg), Kementerian Hukum & HAM dan stakeholder lainnya.
Ia bilang, berdasarkan kesepakatan dan arahan dari Setneg, aturan itu ternyata dalam bentuk Perpres. Oleh karena itu, nantinya akan dibahas pasal-pasal yang ada dalam Perpres.
"Nah, di situ nanti ada NEPIO itu organisasi pelaksana jadi ditetapkan. Kalau kita kemarin usulannya itu masih dalam bentuk keputusan Presiden. Tetapi sudah dijawab sama Setneg bahwa dalam bentuk perpress saja. Jadi peraturannya itu ada ya, pengaturan-pengaturannya," tuturnya.
Baca Juga: Kementerian ESDM Buka Kembali Kuota PLTS Atap Bulan Depan
Eniya pun mengaku lega lantaran dalam Rancangan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2025-2034 TELAH mengidentifikasi dua lokasi untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Keduanya adalah Sumatera dan Kalimantan.
"Ini aja sudah saya lega karena dalam RUPTL sudah menganalisis lokasinya. Paling tidak grid listrik di Kalimantan sama di Sumatera, masing-masing 250 Megawatt (MW)," imbuhnya.
Eniya menambahkan, meski belum ada mitra resmi yang ditunjuk, pemerintah membuka peluang kerja sama internasional secara terbuka.
"Kita terbuka untuk semua negara. Multi-country memungkinkan karena kita negara non-blok. Mau dari Amerika, Korea, Rusia, atau Tiongkok, itu tidak masalah," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








