Ekspor Non-Migas Jadi Penopang Utama Neraca Dagang Mei 2025

AKURAT.CO Kinerja ekspor Indonesia pada Mei 2025 menunjukkan kecenderungan bergantung pada komoditas non-migas yang berhasil menopang neraca dagang nasional.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekspor non-migas Indonesia mencapai USD23,50 menyumbang 95,48% dari total ekspor nasional sebesar USD24,61 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini menjelaskan, meski ekspor migas mengalami penurunan sebesar 21,71% secara tahunan dan hanya mencatatkan nilai USD1,11 miliar, lonjakan ekspor non-migas mampu menutupi defisit sektor migas.
Baca Juga: Beda Garis Kemiskinan RI Versi BPS dan Bank Dunia, Mana Yang Benar?
“Peningkatan ekspor Mei 2025 secara tahunan terutama didorong oleh komoditas lemak dan minyak nabati yang naik hingga 63,01 persen,” ujar Pudji. Ia menambahkan, kontribusi komoditas ini terhadap kenaikan ekspor non-migas mencapai 4,50%, menjadikannya sebagai motor utama kinerja ekspor.
Selain itu, kenaikan signifikan juga terjadi pada ekspor besi dan baja, serta mesin dan perlengkapan elektrik. Ketiga komoditas ini bersama-sama mendorong peningkatan nilai ekspor non-migas hingga mendekati dua digit.
Dalam hal kontribusi sektoral, sektor industri pengolahan menjadi penggerak utama ekspor, menyumbang USD19,76 miliar, disusul pertambangan dan lainnya sebesar USD3,11 miliar. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang lebih kecil namun tetap stabil di angka USD0,63 miliar.
Baca Juga: BPS: Curah Hujan Tinggi Ancam Produktivitas Petani
Meningkatnya ekspor non-migas mencerminkan efektivitas diversifikasi ekspor yang digencarkan dalam beberapa tahun terakhir. Kinerja ekspor ke tiga negara utama tujuan, yaitu China, Amerika Serikat, dan India, turut memperkuat neraca dagang Indonesia secara keseluruhan.
Secara kumulatif, ekspor Indonesia pada Januari hingga Mei 2025 tercatat naik 6,98% menjadi USD111,98 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ekspor migas tetap mengalami tekanan dengan penurunan 11,26%, menandai tantangan berkelanjutan di sektor energi.
Meski demikian, ketergantungan yang semakin tinggi pada sektor non-migas menunjukkan arah kebijakan perdagangan luar negeri yang berfokus pada keberlanjutan dan nilai tambah, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem perdagangan global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









