Penerimaan Hulu Migas Capai Rp96,8 Triliun, Baru 45,1 Persen Target APBN

AKURAT.CO Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat penerimaan negara dari sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) mencapai USD5,88 miliar atau setara Rp96,8 triliun hingga 30 Juni 2025.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan target penerimaan negara 2025 sebesar USD13,03 miliar atau sekitar Rp211,09 triliun.
Sehingga realisasi penerimaan negara hingga Juni 2025 ini hanya mencapai 45,1% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang dipatok sebesar USD13,03 miliar. Namun
Baca Juga: SKK Migas Gandeng Bappenas Genjot Lifting Migas
"Realisasi sampai dengan Juni USD5,88 atau 45,1 persen, outlook-nya USD10,83 miliar atau 8,5 persen," jelasnya dalam Konferensi Pers Kinerja Semester I 2025 di Wisma Mulia, Jakarta, Senin (21/7/2025).
Pria yang akrab disapa Djoksis ini menuturkan alasan penerimaan negara baru mencapai 45,1% lantaran realisasi harga patokan minyak mentah Indonesia (ICP) lebih rendah dibandingkan asumsi ICP yang dipatok dalam APBN 2025.
"Ini karena harga minyak di dalam APBN itu USD82 per barel, realisasinya rata-rata di bawah USD70 atau USD69 barel. Ini otomatis karena harga minyaknya yang rendah meskipun produksinya kita bisa mencapai target," terangnya.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas Kurnia Chairi menambahkan bahwa selain karena ICP, outlook penerimaan negara dari hulu migas juga dipengaruhi oleh lifting.
"Tadi sudah saya sampaikan faktor penurut untuk mencapai penerimaan negara ini tentunya yang pertama adalah konduksi dan lifting ya. Dan kalau kita catat tadi kecenderungannya lifting akan sesuai dengan target APBN 2025 harapan kita, yang berikutnya mungkin yang berpengaruh adalah ICP," terang Kurnia.
Baca Juga: Rapat Bareng Bahlil, Menkeu Tekankan Pentingnya Peran SKK Migas
"Kami melihat ICP berpotensi lebih rendah dari target APBN yang meresap 82 USD per barrel. Jadi kami berkirakan icp yang akan realisasi aktualitasnya sekitar 70-72 USD per barrel ini akan mengerik turun target penerimaan negara kita," pungkas Kurnia menambahkan.
Sebagaimana diketahui, realisasi minyak siap jual atau lifting mencapai 578.000 barel per hari (BOPD) hingga 30 Juni 2025.
Realisasi ini hanya 95,5% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dipatok sebesar 605.000 MBOPD, atau 96,4% terhadap WP&B yang ditargetkan sebdar 599,3 MBOPD. Namun demikian, realisasi ini mencapai 100,3% dibandingkan tahun lalu yang tercatat sebesar 576,1 MBOPD
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









