Guyuran Pemerintah ke Perbankan Rp200 Triliun, Wamentan: Sektor Pertanian Manfaatkan Seluas-luasnya

AKURAT.CO Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono menegaskan pentingnya memanfaatkan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun yang ditempatkan pada lima bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk mendukung penguatan sektor pertanian.
Dana tersebut, menurutnya, jangan sampai hanya mengendap di perbankan, melainkan harus disalurkan secara luas kepada petani dan pelaku usaha produktif di pedesaan.
“Kami mendorong sektor pertanian untuk memanfaatkan seluas-luasnya dana Rp200 triliun yang ditempatkan di lima bank Himbara. Kenapa? Karena pertanian itu sifatnya padat karya,” ujar Sudaryono di Jakarta, Rabu (17/9/2025).
Sudaryono menilai sektor pertanian memiliki peran strategis dalam menyerap tenaga kerja, terutama di pedesaan. Aktivitas pertanian yang padat karya diyakini mampu memberi efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian masyarakat.
Dengan dukungan pembiayaan dari Himbara, sektor ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas lapangan kerja.
Baca Juga: Wamentan Dorong Pembatasan Impor Etanol Demi Petani Tebu Lokal
Menurut Wamentan, dana tersebut sangat penting jika digunakan secara tepat guna, misalnya melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), pembiayaan alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga modal kerja produktif untuk petani.
“Dana itu jangan hanya parkir di bank. Harus benar-benar bisa dimanfaatkan oleh petani agar terjadi perputaran ekonomi, mulai dari desa, kabupaten, sampai wilayah terpencil,” tegasnya.
Dirinya juga menambahkan bahwa perputaran dana di sektor pertanian akan berdampak luas. Tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga menggerakkan ekonomi desa yang selama ini menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional.
Kementerian Keuangan sebelumnya telah menempatkan dana Rp200 triliun ke lima bank Himbara, yakni BRI, BNI, Bank Mandiri, BTN, serta Bank Syariah Indonesia (BSI). Kebijakan ini dipandang strategis oleh Sudaryono karena memberi ruang besar bagi sektor riil, terutama pertanian dan UMKM.
“Dengan sifatnya yang padat karya, pertanian diyakini mampu memberikan dampak ekonomi luas, karena uang yang sama dapat melibatkan banyak orang sekaligus membuka peluang kerja di berbagai daerah,” ucapnya.
Sudaryono juga memastikan pihaknya akan terus mendorong agar dana tersebut diserap secara optimal. Pertanian, kata dia, adalah sektor produksi yang penting, prioritas, dan melibatkan banyak pihak.
“Kami mendorong supaya dana itu dimanfaatkan maksimal, khususnya di sektor pertanian. Karena sektor ini bukan hanya penting untuk ketahanan pangan, tapi juga mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional,” imbuhnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa dana Rp200 triliun tersebut akan mulai terserap secara efektif ke sektor riil dalam waktu sebulan. Dana ini akan disalurkan terutama ke sektor industri riil, termasuk pertanian dan UMKM, melalui berbagai skema pembiayaan yang tersedia di bank Himbara.
Menurut Purbaya, langkah ini sejatinya bukan hal baru. Skema serupa pernah dijalankan pemerintah dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) saat pandemi COVID-19. Hasilnya saat itu terbukti membantu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong konsumsi masyarakat.
Purbaya menambahkan, kebijakan ini juga mendorong bank untuk lebih agresif menyalurkan kredit. “Selama ini bank cenderung nyaman dengan keuntungan dari spread bunga. Dengan adanya dana tambahan Rp200 triliun, persaingan akan membuat bank mencari proyek dengan imbal hasil terbaik,” ujar Purbaya.
Kekhawatiran bahwa penempatan dana dalam jumlah besar berpotensi memicu inflasi pun ditepis oleh Menkeu. Ia menegaskan pemerintah telah menghitung secara matang dampak kebijakan tersebut.
“Kami pastikan kebijakan ini tidak akan menimbulkan inflasi berlebihan. Justru akan memperkuat daya serap sektor riil,” tegas Purbaya.
Dengan adanya dukungan pembiayaan dari dana pemerintah ini, sektor pertanian diharapkan bisa lebih berdaya saing dan berkelanjutan. Terlebih, Indonesia masih menghadapi tantangan ketahanan pangan akibat perubahan iklim, keterbatasan infrastruktur, dan fluktuasi harga komoditas.
Sudaryono optimistis jika dana tersebut diserap secara produktif, pertanian dapat menjadi motor penggerak ekonomi desa dan sekaligus benteng stabilitas ekonomi nasional.
“Dengan pemanfaatan yang tepat, dana ini akan menjadi energi baru bagi pertanian untuk terus tumbuh, menyerap tenaga kerja, dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat luas,” tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








