Akurat
Pemprov Sumsel

Momogi Jadi Simbol: Camilan Kecil yang Ungkap Inflasi Bayangan di Sekitar Kita

Yusuf | 26 Oktober 2025, 22:52 WIB
Momogi Jadi Simbol: Camilan Kecil yang Ungkap Inflasi Bayangan di Sekitar Kita

AKURAT.CO Pernah merasa camilan favoritmu makin kecil padahal harganya tetap? Atau fasilitas hotel yang dulu lengkap kini mulai berkurang?

Fenomena ini dikenal sebagai shadow inflation atau inflasi bayangan, kondisi ketika harga produk dan layanan tampak stabil, tetapi kualitas atau jumlahnya diam-diam menurun.

Inflasi bayangan sering tidak disadari konsumen karena tidak ada kenaikan harga yang terlihat, padahal daya beli masyarakat sesungguhnya berkurang.

Bagaimana Inflasi Bayangan Terjadi

Perusahaan biasanya mencari cara agar biaya produksi tetap efisien tanpa menaikkan harga jual. Caranya bisa melalui:

  • Mengurangi isi produk. Misalnya, berat camilan atau volume minuman berkurang beberapa gram, tapi harga tetap.

  • Menurunkan kualitas bahan. Produsen mengganti bahan baku dengan versi yang lebih murah.

  • Menghapus fasilitas. Layanan tambahan yang dulu gratis kini dikenakan biaya, seperti bagasi pesawat atau topping di minuman.

Strategi ini membuat harga seolah tak berubah, padahal nilai yang diterima konsumen jauh berkurang.

Dampak Inflasi Bayangan bagi Konsumen

Inflasi bayangan secara langsung menurunkan daya beli masyarakat. Konsumen membayar harga sama, tetapi mendapatkan nilai produk atau layanan lebih rendah.

Baca Juga: Indra Sjafri: FIFA Match Day November Jadi Momentum Strategis ke SEA Games 2025

Fenomena ini juga sulit terdeteksi dalam data ekonomi resmi karena tidak ada kenaikan harga yang nyata, sehingga inflasi terlihat lebih rendah dari kenyataan di lapangan.

Contoh di Kehidupan Sehari-hari

Fenomena ini paling sering terlihat di sektor makanan dan minuman, termasuk jajanan legendaris yang akrab bagi generasi 90-an dan 2000-an.

  • Momogi: stik jagung isi keju yang dulu tebal dan panjang, kini jauh lebih kecil dan cepat habis.

  • Beng-Beng: wafer cokelat dan karamel yang dulunya padat, kini terasa lebih ringan. Harga juga naik dari Rp1.000 di awal 2000-an menjadi sekitar Rp3.500–Rp4.000.

  • Tango Mini: isi sachet berkurang dari 6–8 potong menjadi hanya 4–5 potong kecil dengan krim lebih tipis.

  • Yosan: permen karet legendaris kini lebih kecil dan cepat kehilangan rasa.

  • Choki-Choki: panjang stik menyusut dan sering ditemukan bagian bawah kosong.

Perubahan kecil seperti ini jarang disadari, namun dalam jangka panjang, konsumen membayar lebih mahal untuk isi yang makin sedikit.

Cara Menghindari Dampaknya

Agar tidak dirugikan oleh inflasi bayangan, konsumen bisa melakukan langkah-langkah berikut:

  1. Perhatikan ukuran dan label produk. Bandingkan isi kemasan lama dan baru.

  2. Gunakan harga per unit. Lihat harga per gram atau liter untuk mengetahui nilai sebenarnya.

  3. Cari alternatif merek. Merek lokal kadang menawarkan kualitas dan kuantitas lebih baik.

  4. Beli dalam jumlah besar. Pembelian skala besar biasanya lebih hemat.

  5. Suarakan pendapat. Laporkan atau bagikan pengalaman di media sosial agar produsen lebih transparan.

Dampak Jangka Panjang bagi Ekonomi

Baca Juga: KrediOne Perkuat Literasi dan Inklusi Keuangan di FinEXPO 2025 Surabaya

Dalam jangka panjang, shadow inflation bisa menurunkan kepercayaan publik terhadap produsen. Konsumen yang merasa dirugikan cenderung beralih ke merek lain.

Selain itu, fenomena ini memperdalam kesenjangan ekonomi. Masyarakat berpenghasilan tinggi mungkin tidak terlalu terpengaruh, namun kelompok berpenghasilan rendah harus menyesuaikan pengeluaran karena nilai barang yang dibeli terus menurun.

Inflasi bayangan menunjukkan bahwa harga yang tampak stabil belum tentu mencerminkan kestabilan ekonomi. Kewaspadaan dan literasi konsumen menjadi kunci untuk tetap bijak dalam menghadapi fenomena ini.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf
Herry Supriyatna